Tianjin, Radio Bharata Online - Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat telah lama melakukan serangan siber secara otomatis, sistematis, dan cerdas, menurut sebuah laporan pada hari Kamis (4/5) lalu.

Laporan tersebut dirilis oleh Pusat Tanggap Darurat Virus Komputer Nasional Tiongkok dan perusahaan keamanan dunia maya 360. Mereka mengungkapkan "kerajaan peretas" di bawah manipulasi pemerintah AS.

"Dalam waktu yang lama, CIA diam-diam telah melakukan serangan siber di bawah kedok server jaringannya yang besar. Juga, secara besar-besaran memanfaatkan kerentanan zero-day dalam serangan siber globalnya," ujar Du Zhenhua, insinyur senior dari lembaga tersebut.

Laporan itu mengatakan penggunaan teknologi telah mengungkapkan keterlibatan beberapa negara Barat dalam apa yang digambarkannya sebagai 'revolusi warna' di banyak negara.

CIA dikatakan telah terlibat dalam penggulingan atau upaya untuk menggulingkan lebih dari 50 pemerintahan, sementara hanya mengakui tujuh upaya semacam itu.

"Operasi CIA akan mencuri informasi kunci dan sensitif dari pemerintah lain, mendapatkan kendali atas infrastruktur utama dan menciptakan kerugian ekonomi yang signifikan, dan menguping percakapan pribadi untuk membocorkan privasi," ungkap Du.

Laporan itu menyatakan serangan semacam itu diyakini sedang berlangsung. Pada tahun 2020, perusahaan keamanan internet 360 menemukan organisasi peretas tak dikenal dengan target di Tiongkok, Asia Tenggara, dan Eropa.

"Targetnya termasuk infrastruktur sistem informasi utama dan lembaga penelitian, serta badan dan perusahaan pemerintah yang berfokus pada kedirgantaraan, internet, dan perminyakan," kata Bian Liang, pakar teknologi keamanan di 360 Advanced Threat Research Institute.

Laporan itu mengatakan hegemoni dunia maya AS, yang dimanipulasi oleh pemerintah AS, meluas ke seluruh dunia.

Menurutnya, sebagai salah satu dari tiga badan intelijen utama pemerintah AS, CIA telah lama berkomitmen untuk mengembangkan kemampuan spionase dunia maya.

"Dengan serangan siber CIA yang sangat sistematis, cerdas, dan tersembunyi, operasi semacam itu jelas perlu didukung oleh dana, teknologi, dan sumber daya manusia yang melimpah," kata Bian.