JAKARTA, Radio Bharata Online – Saat berbicara pada Sabtu (2/9) di Jakarta, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengatakan, negara-negara Asia Tenggara harus menghindari mengikuti jejak Ukraina, dan berhati-hati agar tidak dijadikan pion geopolitik, oleh kekuatan asing yang menyebarkan perselisihan di kawasan, demi keuntungan.

Pada konferensi lembaga pemikir yang diselenggarakan oleh Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia, seperti dikutip dari RT, Senin (4/9), Wang mengatakan, krisis di Ukraina telah memberikan peringatan bagi umat manusia, dan tragedi serupa tidak boleh terjadi di Asia.  ASEAN harus meningkatkan keamanan regional melalui dialog dan kerja sama, dan menentang upaya mencapai keamanan absolut dengan mengorbankan negara lain.

Wang memperingatkan adanya manipulator di belakang panggung, yang tampaknya mengacu pada Amerika Serikat, yang mengobarkan api kontroversi mengenai sengketa wilayah Laut Tiongkok Selatan.

Menurutnya, tangan hitam yang bersembunyi di balik layar ini harus diungkap.

Lebih lanjut Wang mengatakan, Tiongkok selalu bersedia bekerja sama dengan negara-negara terkait, untuk menyelesaikan perbedaan dengan baik melalui dialog, dan mencari cara efektif untuk mengendalikan situasi maritim.

Hubungan Tiongkok-AS telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir di tengah konflik Rusia-Ukraina, dan meningkatnya ketegangan atas dugaan campur tangan Washington di Taiwan.

Ini terjadi di tengah upaya Pentagon menjalin hubungan pertahanan yang lebih erat dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk empat negara di kawasan, yang memiliki sengketa wilayah dengan Tiongkok.

Filipina, misalnya, pada awal tahun ini menyetujui untuk mengizinkan pasukan AS menggunakan empat pangkalan tambahan di negara tersebut, yang memicu peringatan dari para pejabat Tiongkok, bahwa Manila mengikat dirinya pada kereta perselisihan geopolitik.

Dalam pidato virtualnya, Wang memperkirakan upaya asing untuk memicu konflik di Laut Tiongkok Selatan tidak akan berhasil. Tiongkok dan negara-negara tetangganya harus bekerja sama untuk menjaga perdamaian yang telah dicapai dengan susah payah di kawasan, dengan mengelola perbedaan mereka dengan baik. (RMOL)