BEIJING, Radio Bharata Online - Para menteri luar negeri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan yang tergabung dalam BRICS, Kamis 1 Juni memulai pertemuan di Cape Town, Afrika Selatan. Para menlu itu diharapkan untuk membahas berbagai masalah, termasuk persiapan untuk pertemuan puncak para pemimpin yang akan datang, ekspansi, serta isu-isu perdagangan dan ekonomi.
Secara global, pertemuan dua hari itu telah menarik perhatian luas, terutama karena daya tariknya bagi negara-negara berkembang yang lain, meningkat dengan cepat, di tengah-tengah penyalahgunaan dominasi ekonominya oleh Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Belakangan, semakin banyak negara yang secara terbuka menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan kelompok BRICS.
Namun, berlawanan dengan mentalitas Perang Dingin yang digembar-gemborkan oleh media Barat yang mengatakan bahwa negara-negara BRICS berusaha untuk melawan, kelompok ini sebenarnya sedang berusaha untuk membangun sebuah platform, untuk kerja sama di antara pasar negara berkembang, dan meningkatkan tata kelola global, yang pada akhirnya membangun sebuah komunitas global yang memiliki masa depan yang sama.
Pertemuan para menteri luar negeri dimulai pada hari Kamis dan dipimpin oleh Naledi Pandor, menteri hubungan dan kerja sama internasional Afrika Selatan. Pandor akan melanjutkan kebijakan keterlibatan inklusif, dengan mengundang 15 menteri luar negeri dari Afrika dan Global South, ke pertemuan "Friends of BRICS" yang rencananya digelar pada hari Jumat 2 Juni. Demikian menurut Departemen Hubungan dan Kerjasama Internasional Afrika Selatan dalam sebuah pernyataan tertanggal 18 Mei yang lalu.
Menurut laporan-laporan media, para menteri luar negeri dari Brazil, Rusia dan India, berada di Cape Town untuk menghadiri pertemuan tersebut. Sementara menurut Reuters, seorang wakil menteri mewakili Tiongkok.
Hingga berita ini diturunkan pada hari Kamis, para pejabat RRT belum mengumumkan kehadiran mereka dalam pertemuan tersebut. (Global Times)