Seoul, Radio Bharata Online - Partai oposisi Korea Selatan dan perwakilan kelompok warga berkumpul di depan Majelis Nasional pada Kamis (4/5) pagi, memprotes rencana kunjungan Perdana Menteri Jepang ke negara tersebut, serta kerja sama negara mereka dengan Amerika Serikat dan Jepang.
Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, akan mengunjungi Korea Selatan dari Minggu (7/5) hingga Selasa (9/5). Analis percaya bahwa kunjungan mendesak tersebut adalah untuk mempersiapkan pertemuan trilateral para pemimpin dari tiga negara termasuk Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang serta peluncuran kerjasama militer trilateral.
Hubungan diplomatik pro-Amerika dan pro-Jepang yang baru-baru ini disorot oleh pemerintahan Yoon Suk-yeol telah memicu ketidakpuasan yang meluas di kalangan publik.
Ratusan pengunjuk rasa Korea Selatan, termasuk dari partai oposisi seperti Partai Demokrat, Partai Keadilan dan Partai Progresif, berunjuk rasa untuk meminta pemerintah untuk tidak berpartisipasi dalam aliansi militer AS-Jepang-Korea Selatan dan mengutuk pemerintah Jepang karena mendistorsi sejarah agresi.
Mereka meneriakkan slogan-slogan dan memegang tanda bertuliskan "mengutuk Jepang karena mendistorsi sejarah", "menentang aliansi militer antara Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang", "meminta maaf dan memberikan kompensasi kepada para korban kerja paksa dan wanita penghibur", "menentang pembuangan air yang terkontaminasi nuklir ke laut".
Beberapa pengunjuk rasa percaya bahwa keputusan mendadak Fumio Kishida untuk mengunjungi Korea Selatan dipengaruhi oleh Amerika Serikat.
"Media Jepang mencatat bahwa pengumuman mendadak pertemuan antara pemimpin negara Korea Selatan dan Jepang dibuat atas permintaan kuat Amerika Serikat, dan itu merupakan konsultasi awal untuk memperdalam kerja sama militer antara Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang pada pertemuan kepemimpinan ketiga negara pada KTT Kelompok Tujuh (G7) mendatang. Itu sangat mungkin terjadi," ujar Yang Yi Wonyoung, anggota Majelis Nasional dari Partai Demokrat.