JAKARTA, RAdio Bharata Online  - Indonesia dan banyak negara di dunia tengah dilanda cuaca panas yang meningkat. Beberapa di antaranya, terjadi karena efek dari gelombang panas yang ekstrem. Untuk lebih mempersiapkan kondisi yang mungkin terjadi di depan, para peneliti dari Inggris telah mengidentifikasi negara-negara yang paling berisiko terkena bahaya gelombang panas.

Kondisi ini bukan hanya tentang perkiraan gelombang panas, namun juga memperhitungkan faktor-faktor seperti sosial ekonomi, pertumbuhan populasi, stabilitas jaringan energi, dan ketersediaan layanan kesehatan. 
Dari hasil penelitian, wilayah seperti Afghanistan, Papua Nugini, dan Amerika Tengah paling berisiko terkena dampak gelombang panas yang merusak. 
Kemudian Beijing dan Eropa Tengah juga rentan karena populasinya yang besar sehingga menempatkan jumlah orang yang relatif besar dalam risiko.

Selain itu melalui penelitian ini para ilmuwan ingin melihat lebih banyak hal untuk mempersiapkan gelombang panas yang berpotensi menghancurkan yang akan datang. 
Masalahnya hingga saat ini para ilmuwan  tidak yakin apa yang akan terjadi. Mereka mengatakan apa yang ada di masa depan kemungkinan besar akan lebih buruk daripada yang telah dilihat mereka hingga saat ini.

Para peneliti menggunakan model iklim terbaru dan data populasi global untuk membuat penilaian. Mereka juga menggunakan metode untuk menentukan kemungkinan berulangnya peristiwa iklim ekstrem yang dikenal sebagai statistik nilai ekstrem. Secara statistik, gelombang panas yang cukup ekstrem untuk tidak diprediksi oleh model, telah terjadi di 31 persen dari 136 wilayah yang dicakup oleh penelitian selama 60 tahun terakhir.


sumber Detikcom