BEIJING, Radio Bharata Online - Pejabat senior dari World Wide Fund for Nature (WWF) menyatakan, upaya Tiongkok untuk mengintegrasikan lahan basah ke dalam lanskap perkotaan, merupakan model yang patut diapresiasi untuk pembangunan kota berkelanjutan.

Dalam wawancara dengan Xinhua pada hari Sabtu di sela-sela Pertemuan ke-15 Konferensi Para Pihak Konvensi Ramsar tentang Lahan Basah (COP15), di kota resor Victoria Falls, Zimbabwe, Christine Colvin, pimpinan kebijakan air tawar WWF, mengatakan, sangat mengesankan bahwa sembilan kota di Tiongkok terakreditasi sebagai kota lahan basah internasional.

Christine mengatakan, Tiongkok memimpin dalam hal kota spons, dan menjadikan kota-kota tersebut kembali “permeabel”. 

Colvin, menekankan bahwa pembangunan perkotaan tidak boleh mengorbankan lahan basah, ekosistem yang krusial bagi adaptasi iklim.

Dia juga menekankan pentingnya solusi berbasis alam, dan mengintegrasikan lahan basah ke dalam desain perkotaan, seraya mencatat bahwa Tiongkok sedang menunjukkan kepada para wali kota, pemerintah kota, dan pemerintah daerah di seluruh dunia, bagaimana mengembalikan alam ke dalam kota, dan merancang kawasan perkotaan baru yang lebih permeabel, yang memungkinkan siklus air berfungsi secara alami.

Menurutnya, itulah yang akan menjadi kota masa depan, kota yang jauh lebih tangguh terhadap iklim, dan menawarkan ketahanan air yang lebih baik.

Colvin juga memperingatkan bahwa degradasi lanskap dan runtuhnya lahan basah, menimbulkan ancaman serius terhadap ketahanan pangan, ketersediaan air, dan stabilitas iklim.

COP15, yang resmi dibuka pada hari Kamis dan berlangsung hingga 31 Juli, diselenggarakan dengan tema "Melindungi Lahan Basah untuk Masa Depan Kita Bersama." (Kantor Berita Xinhua)