KUNMING, Radio Bharata Online - Bagian kedua dari Konferensi Para Pihak (Conference of the Parties - COP15) untuk Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity - CBD), salah satu kegiatan keaneka ragaman hayati multilateral paling penting di dunia, akan segera dimulai di Montreal, Kanada, dengan Tiongkok sebagai ketuanya.

Konferensi ini diyakini secara luas berpotensi menjadi "momen Paris" bagi alam, karena diharapkan dapat menyepakati kerangka keanekaragaman hayati global untuk dekade mendatang, yang akan memenuhi harapan global.

Bagian kedua dari COP15, dijadwalkan pada 7-19 Desember, dengan tema "Ecological Civilization: Building a Shared Future for All Life on Earth." Bagian ini bertugas merumuskan dan mengadopsi Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (GBF) pasca-2020.

Setidaknya 96 menteri dan lebih dari 10.000 delegasi terdaftar, dipastikan akan berpartisipasi dalam bagian kedua COP15.

Kantor Berita Xinhua mengutip pejabat PBB bulan lalu, melaporkan bahwa Tiongkok bertanggung jawab atas urusan substantif dan politik konferensi tersebut.

Huang Runqiu, Menteri Ekologi dan Lingkungan Tiongkok dan presiden COP15 mengatakan, sejauh ini Tiongkok telah mengadakan 37 pertemuan presidium COP15. Itu juga memimpin empat pertemuan kelompok kerja terbuka tentang GBF pasca-2020 di Jenewa dan Nairobi.

Selain itu, Tiongkok telah memanfaatkan pertemuan seperti Forum Politik Tingkat Tinggi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan.

Upaya ini telah mempertahankan momentum politik COP15, dan memfasilitasi serta menjembatani perbedaan di antara pihak-pihak yang berkontrak untuk mencapai konsensus yang lebih besar.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan isu tetap menjadi tantangan besar bagi para pihak yang berkontrak.

The Global Times mengetahui bahwa hampir semua 20 indikator yang dirumuskan oleh Target Keanekaragaman Hayati Aichi yang seharusnya dipenuhi pada tahun 2020 belum selesai, dan pihak-pihak yang berpartisipasi tidak puas dengan itu. Oleh karena itu, sekarang para pihak telah sepakat bahwa diperlukan kerangka kerja untuk dekade yang akan datang.

Namun untuk mencapai kerangka baru, kontradiksi antara negara berkembang dan negara maju masih tajam dan antagonis. Perbedaan terungkap dalam isu-isu seperti pendanaan, sumber daya genetik, dan mekanisme penegakan dan pengawasan, yang juga akan menjadi fokus dan kesulitan selama negosiasi di COP15. (GT)