BEIJING, Radio Bharata Online - Sungguh ironis, pengumuman Tiongkok bahwa raksasa chip memori AS, Micron Technology yang tidak lulus uji keamanan, langsung memicu keluhan dari beberapa media Barat, dan spekulasi "balas dendam."

Para ahli pada hari Senin menunjukkan, bahwa negara-negara Barat tertentu menilai orang lain berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri, karena mereka terbiasa menindak perusahaan-perusahaan Tiongkok berdasarkan tuduhan yang tidak berdasar.

Serangan tersebut langsung terjadi, setelah Tiongkok mengumumkan hasil tinjauan keamanan sibernya terhadap Micron, yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut tidak lulus, karena memiliki masalah keamanan siber yang parah.  Masalah keamanan ini dapat menimbulkan risiko yang signifikan terhadap rantai pasokan infrastruktur informasi penting Tiongkok.

Uji keamanan yang dilakukan oleh Cybersecurity Review Office (CRO) Tiongkok terhadap produk Micron yang dijual di Tiongkok sejak akhir Maret lalu, menemukan bahwa produk Micron berdampak negatif terhadap keamanan nasional Tiongkok, demikian pernyataan yang dimuat dalam situs web Cyberspace Administration of China.

Akibatnya, pihak berwenang menuntut agar operator infrastruktur informasi penting domestik Tiongkok, berhenti membeli produk Micron sesuai dengan Undang-Undang Keamanan Siber dan peraturan lainnya.

Hasil peninjauan tersebut diumumkan tidak lama setelah Micron menunjuk general manager baru untuk Tiongkok.

Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, mengatakan bahwa peninjauan ini bertujuan untuk mencegah produk yang membahayakan keamanan infrastruktur informasi penting Tiongkok, dan merupakan langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional Tiongkok.

Sementara beberapa pejabat dan media asing, secara otomatis mengaitkan keputusan tersebut dengan ketegangan antara Beijing dan Washington.

Sebuah laporan Reuters mengutip seorang juru bicara dari Departemen Perdagangan AS, yang mengatakan bahwa tindakan ini tidak konsisten dengan pernyataan Tiongkok untuk membuka pasar, dan berkomitmen pada kerangka regulasi yang transparan.  Laporan Financial Times mencatat bahwa insiden Micron "terlihat seperti saling balas dendam dari luar".

Sebelumnya, beberapa media asing mengutip berita bahwa polisi Tiongkok, baru-baru ini menanyai staf dari kantor konsultan manajemen AS, Bain & Company di Shanghai, sebagai bukti bahwa Tiongkok meningkatkan tindakan pembalasan.

Para ahli mengkritik negara-negara Barat yang selalu menerapkan standar ganda. Para pejabat atau media AS, jarang menuduh pemerintahnya menargetkan Tiongkok, ketika mereka meluncurkan sanksi tanpa dasar terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir.

Seorang ahli di Chinese Academy of Social Sciences di Beijing, Gao Lingyun, kepada Global Times pada hari Senin mengatakan, ini adalah pendekatan standar ganda khas AS. Perbedaan paling signifikan antara tinjauan AS dan tinjauan Tiongkok baru-baru ini, adalah bahwa kita berbicara tentang bukti, dan bukannya tuduhan yang tidak berdasar.

Sementara Ma Jihua, seorang analis teknologi veteran, mengatakan kepada Global Times pada hari Senin, bahwa AS telah mengutip keamanan nasional, sebagai alasan untuk berbagai tinjauan terhadap berbagai perusahaan Tiongkok  selama bertahun-tahun, sambil menambahkannya ke dalam daftar entitasnya, sehingga sebenarnya, AS "tidak memenuhi syarat" untuk mengatakan apa pun tentang tinjauan Tiongkok.  (Global Times)