JAKARTA, Radio Bharata Online - PBB memperingatkan dalam lima tahun ke depan suhu global bisa menjadi periode terpanas berdasarkan laporan Badan Meteorologi Dunia (WMO). Perkiraan ini dikaitkan dengan perubahan iklim ekstrem. Sementara tahun terpanas saat ini terjadi di 2016.

Laporan itu juga menyebutkan, "Ada kemungkinan 98 persen bahwa setidaknya satu tahun ke depan, dan periode lima tahun secara keseluruhan, akan menjadi rekor terpanas," 

Menurut WMO, akan ada kemungkinan 66 persen antara tahun 2023 dan 2027 rata-rata tahunan suhu bumi dekat permukaan akan melampaui 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri selama setidaknya satu tahun. Otomatis, efek perubahan iklim pada manusia, satwa liar, dan ekosistem makhluk hidup berisiko lebih parah.

Sementara itu laporan The Guardian menunjukkan tren suhu panas juga terjadi di Asia Tenggara. Bahkan, Singapura mencatat rekor terpanas dalam 40 tahun terakhir berada di angka 37 derajat Celcius, pada Sabtu lalu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Malaysia terus mencatat kasus heatstroke atau 'sengatan' panas. Heatstroke bisa berujung serius jika tak segera ditangani, seperti merusak otak, jantung, ginjal, dan otot. Kerusakan semakin parah jika pengobatan ditunda lebih lama, meningkatkan risiko komplikasi serius atau kematian. 
Pasalnya, kondisi ini memicu tubuh seseorang terlalu panas akibat kontak dan aktivitas fisik di suhu tinggi.

Cedera panas paling sering terjadi saat suhu tubuh naik hingga 40 derajat celcius atau 104 derajat fahrenheit bahkan lebih. Kondisi ini paling umum terjadi pada bulan-bulan musim panas

Detikcom