BEKASI, Bharata Online - Tanggul Sungai Citarum di Kampung Bendungan, RT 03/05, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, jebol menyebabkan air sungai meluap hingga merendam ratusan permukiman warga.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (19/1) pukul 23.50 WIB setelah debit Sungai Citarum meningkat signifikan akibat hujan yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Derasnya tekanan air membuat tanggul tidak lagi mampu menahan aliran sungai hingga akhirnya jebol.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (19/1) pukul 23.50 WIB setelah debit Sungai Citarum meningkat signifikan akibat hujan yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Derasnya tekanan air membuat tanggul tidak lagi mampu menahan aliran sungai hingga akhirnya jebol.

Warga setempat inisiatif melakukan penanganan darurat dengan membendung aliran air menggunakan karung berisi tanah dan pasir serta bambu. Sebagian warga juga mengevakuasi anggota keluarga dan memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih aman.

Selain merendam permukiman, banjir akibat jebol tanggul turut mengganggu aktivitas masyarakat karena akses jalan utama ikut terendam. Ancaman juga membayangi sektor pertanian dan perikanan, ribuan hektare tambak dan sawah dikhawatirkan mengalami gagal panen.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi Dody Supriyadi membenarkan peristiwa tersebut dan menyatakan petugas masih melakukan penanganan darurat di lokasi dengan membuat tanggul penahan sementara. Dody menyatakan berdasarkan hasil mitigasi di lapangan, tanggul Sungai Citarum jebol sepanjang enam meter. Ratusan rumah warga di Desa Pantai Bakti terendam dengan ketinggian air mencapai satu meter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mencatat sebanyak 553 Kepala Keluarga (KK) di Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong, terdampak banjir akibat tanggul Sungai Citarum jebol pada Selasa (20/1) dini hari tadi.

Dody menjelaskan ketinggian muka air di permukiman warga bervariasi antara 10 hingga 60 centimeter. Warga memilih bertahan di rumah masing-masing sembari memantau kondisi air yang masih melimpas. [Koran Jakarta]