JAKARTA, Radio Bharata Online - Presiden Recep Tayyip Erdogan yang baru saja memenangkan Pemilu Turki, bersumpah bahwa kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) tak akan bisa menyusup ke pemerintahan Turki.
Erdogan melontarkan sumpah itu demi nilai-nilai tradisional "keluarga" Turki yang "suci".
Erdogan memang sering menuduh pihak oposisi, terutama pesaingnya di pemilu, Kemal Kilicdaroglu, sebagai pro-LGBT.
Tudingan itu salah satunya disampaikan saat ia berkampanye di Kota Giresun dan Rize. Kala itu, Erdogan menuding Kilicdaroglu dan sekutunya sebagai kelompok yang mendukung hak kaum LGBT.
Tudingan serupa disampaikan lagi saat dirinya mengklaim kemenangan di depan para pendukungnya.
Kilicdaroglu sendiri bukanlah pendukung hak-hak LGBT yang vokal dan blak-blakan. Namun, ia memang pernah berjanji mengembalikan Konvensi Istanbul jika terpilih.
Konvensi Istanbul adalah perjanjian mengenai hak asasi manusia (HAM) internasional di bawah naungan Majelis Eropa. Konvensi ini ditandatangani oleh 45 negara ditambah Uni Eropa pada 2011.
Konvensi ini bertujuan untuk memperkuat hukuman atas kekerasan terhadap perempuan.
Pada 2021, Turki menarik diri dari konvensi ini karena menganggap perjanjian tersebut telah "dibajak oleh sekelompok orang yang mencoba menormalkan homoseksualitas."
Keluarnya Turki diduga karena salah satu pasal dalam konvensi itu menyatakan, bahwa perempuan transgender adalah perempuan sebenar-benarnya.
Sementara itu, isu LGBT sendiri banyak dinilai para pejabat di pemerintahan konservatif Erdogan, sebagai "agama" bagi Amerika dan Eropa. Sebaliknya, ideologi ini dianggap amoral Turki.
Seperti dilansir RT, pada rapat umum Turki April lalu, Erdogan pun meminta generasi muda agar tidak mengikuti ideologi LGBT. Ia juga mendesak anak-anak muda tidak menentang pernikahan. (CNNIndonesia)