Beijing, Bharata Online - Pada hari Rabu (1/4), Tiongkok mengecam langkah Jepang yang mengerahkan senjata ofensif, menyebut pengerahan tersebut sangat berbahaya dan mendesak komunitas internasional untuk tetap waspada.
Pada hari Selasa (31/3), Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, mengatakan rudal jarak jauh dengan kemampuan serangan balasan telah dikerahkan di prefektur Kumamoto dan Shizuoka, sebuah langkah yang telah memicu penentangan domestik.
Demonstrasi diadakan di Jepang pada Selasa (31/3) malam ketika warga Jepang menyuarakan penentangan keras terhadap keputusan pemerintah untuk mengerahkan rudal jarak jauh di negara tersebut.
"Jepang mengerahkan senjata ofensif dengan kedok 'pertahanan' dan 'serangan balik', yang jelas melampaui cakupan 'pertahanan diri' dan kebijakan 'yang berorientasi pada pertahanan secara eksklusif'. Ini merupakan pelanggaran berat terhadap ketentuan dalam instrumen yang memiliki kekuatan hukum di bawah hukum internasional, termasuk Deklarasi Kairo (1943), Proklamasi Potsdam (1945), dan Instrumen Penyerahan Jepang (1945), serta Konstitusi Jepang sendiri dan norma-norma domestik yang ada. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa kekuatan sayap kanan di Jepang mendorong kebijakan keamanan dan pertahanan negara ke arah ofensif dan ekspansionis. Neomiliterisme Jepang menimbulkan ancaman bagi perdamaian dan stabilitas regional, dan masyarakat internasional harus tetap sangat waspada terhadap hal ini," ujar Mao Ning, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, dalam konferensi pers di Beijing.
"Saya juga memperhatikan bahwa banyak kelompok sipil dan individu Jepang telah dengan jelas menyatakan penentangan mereka. Belum lama ini, seorang perwira Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) secara ilegal memasuki Kedutaan Besar Tiongkok di Jepang dengan membawa pisau. Alih-alih merenungkan kekurangan serius SDF sendiri dalam pengendalian dan manajemen, pihak Jepang malah sibuk membesar-besarkan 'ancaman eksternal' dan mempercepat ekspansi militer. Perilaku ini sangat berbahaya. Kami dengan sungguh-sungguh mendesak pihak Jepang untuk merenungkan secara mendalam sejarah agresi militeristiknya, mematuhi komitmennya di bidang militer dan keamanan, dan bertindak dengan bijaksana," katanya.