BEIJING, Radio Bharata Online - Tiongkok dengan tegas mendukung posisi sentral ASEAN dalam kerja sama regional, dan perannya yang lebih besar dalam urusan internasional.

Hal itu dikatakan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang pada hari Selasa, setibanya di Jakarta dalam kunjungan resmi ke Indonesia dan menghadiri KTT Tiongkok-ASEAN ke-26, ASEAN Plus Three ke-26, dan KTT Asia Timur ke-18.

Meskipun ASEAN menghadapi tantangan akibat lesunya perekonomian global seperti krisis di Myanmar, perselisihan mengenai isu-isu yang mencakup Laut Tiongkok Selatan, dan khususnya persaingan negara-negara besar yang semakin memburuk, para ahli di Tiongkok yakin bahwa ASEAN dapat menunjukkan ketahanan terhadap setiap perubahan yang terjadi.

Tiongkok dan ASEAN memiliki harapan yang sama terhadap perdamaian dan pertumbuhan regional, yang merupakan kepentingan semua negara di kawasan, dan harus bergandengan tangan, untuk mempertahankan pembangunan berkelanjutan dengan visi yang lebih besar, terhadap keuntungan kecil yang ditawarkan oleh kekuatan eksternal.

Reuters melaporkan, Presiden Indonesia Joko Widodo, dalam pidato pembukaannya di KTT ASEAN pada hari Selasa, meminta kelompok tersebut untuk merancang strategi taktis jangka panjang yang relevan, dan memenuhi harapan masyarakat. Menurut Presiden Jokowi, ASEAN telah sepakat untuk tidak menjadi proxy kekuatan apa pun.

Presiden mendesak para pemimpin regional, untuk memastikan kapal terus bergerak dan berlayar, dengan mengatakan bahwa Kita harus menjadi kaptennya untuk mencapai perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama.

Ge Hongliang, wakil direktur Fakultas Studi ASEAN di Universitas Guangxi untuk Kebangsaan, kepada Global Times mengatakan, sejak terjalinnya kemitraan strategis pada tahun 2003, interaksi bilateral Tiongkok-ASEAN sampai 2013, lebih terfokus pada aspek ekonomi dan perluasan volume.

Ge mengatakan, kuncinya adalah peningkatan kualitas pada dekade kedua, yakni 2013-2023, yang menyaksikan kemajuan penting dalam bidang-bidang seperti pembangunan bersama Inisiatif Sabuk dan Jalan tahun 2021, dan perjanjian perdagangan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang mulai berlaku pada tahun 2022. (GT)