Tiongkok dan Jepang memperingati 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Anggota Dewan Negara sekaligus Menteri Luar Negeri (Menlu) Tiongkok Wang Yi, pada Senin (12/9/2022), menyampaikan pidato melalui tautan video dalam upacara pembukaan sebuah seminar yang digelar untuk memperingati 50 tahun normalisasi hubungan diplomatik Tiongkok-Jepang.

Dikutip dari Xinhua, Wang mengatakan bahwa negara bertetangga yang bersahabat, serta pembangunan dan revitalisasi Asia merupakan takdir, aspirasi, dan tanggung jawab Tiongkok dan Jepang. Wang mengajukan gagasan lima poin tentang membangun hubungan Tiongkok-Jepang yang memenuhi tuntutan era baru:

Pertama, menepati janji dan menjaga landasan politik dalam hubungan Tiongkok-Jepang. Untuk memastikan perkembangan hubungan bilateral yang stabil dan berjangka panjang, keempat dokumen politik yang dicapai antara kedua negara harus dipatuhi dan komitmen yang telah dibuat selama ini harus dihormati. Terkait isu-isu utama, seperti sejarah dan Taiwan, yang merupakan isu fundamental dalam hubungan Tiongkok-Jepang, tidak boleh ada ambiguitas maupun kemunduran. Kedua, mengingat situasi secara keseluruhan dan memahami arah pembangunan yang tepat. Konsensus politik yang dicapai oleh Tiongkok dan Jepang, yakni kedua negara merupakan mitra kerja sama dan tidak menimbulkan ancaman bagi satu sama lain, harus diakomodasi ke dalam kebijakan mereka dan diimplementasikan melalui tindakan. Kedua belah pihak harus menyingkirkan gangguan dan mengatasi perbedaan dengan tepat untuk memastikan bahwa kapal hubungan Tiongkok-Jepang tidak kandas atau menyimpang dari jalurnya.

Ketiga, memperdalam kerja sama dan mencapai hasil yang saling menguntungkan di tingkat yang lebih tinggi. Kedua belah pihak harus memupuk rasa kemitraan yang kuat, menjunjung tinggi perspektif global, dan bersama-sama menolak praktik pemisahan (decoupling) yang salah, sehingga dapat menjaga rantai pasokan dan industri global yang stabil dan lancar, serta lingkungan perdagangan dan investasi yang adil dan terbuka. Keempat, memperkuat bimbingan dan menumbuhkan pemahaman yang positif dan bersahabat. Pertukaran orang ke orang (people-to-people) antara Tiongkok dan Jepang memiliki sejarah yang panjang dan harus diteruskan seiring waktu.

Kelima, menyesuaikan diri dengan tren umum, dan mempraktikkan multilateralisme sejati. Sangat penting bagi kedua negara untuk menegakkan sistem internasional dengan PBB sebagai intinya, bersama-sama menentang pola pikir menang-kalah (zero-sum) sekaligus menghindari konfrontasi dan persaingan, serta mendorong stabilitas dan pembangunan regional yang terpadu.

Menteri Luar Negeri Jepang Yoshimasa Hayashi dalam pidatonya melalui tautan video mengatakan bahwa kedua negara harus fokus pada 50 tahun ke depan dan bekerja sama untuk membangun hubungan Jepang-Tiongkok yang konstruktif dan stabil.