JAKARTA, Radio Bharata Online - Sebanyak 45.000 petugas polisi yang didukung oleh kendaraan lapis baja ringan dikerahkan otoritas Prancis untuk mengatasi aksi-aksi protes selama empat malam berturut-turut. Aksi protes yang diwarnai kerusuhan ini terjadi setelah penembakan fatal yang dilakukan polisi terhadap seorang remaja.
Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (1/7), unit-unit polisi dan pasukan keamanan lainnya menyebar ke seluruh negeri untuk memadamkan kerusuhan atas penembakan itu, yang terjadi saat pemberhentian lalu lintas di pinggiran kota Paris pada hari Selasa lalu.
Penjarahan dilaporkan terjadi pada Jumat malam waktu setempat di kota Lyon, Marseille dan Grenoble. Para pengunjuk rasa juga membakar mobil dan tempat sampah.
Polisi terpaksa menggunakan gas air mata di kota Marseille setelah para pemuda melemparkan proyektil ke kendaraan polisi di distrik Vieux-Port, yang populer di kalangan turis.
Walikota Marseille Benoit Payan menyerukan bala bantuan pasukan dengan mengatakan "adegan penjarahan dan kekerasan tidak dapat diterima".
Delapan puluh orang ditangkap di Marseille di antara total 270 orang yang ditangkap secara nasional pada Jumat, kata Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, setelah bergegas kembali dari KTT Uni Eropa untuk memimpin pertemuan krisis, mengecam "eksploitasi kematian seorang remaja yang tidak dapat diterima" di beberapa kalangan. Macron mendesak orang tua untuk bertanggung jawab atas para perusuh di bawah umur, sepertiga di antaranya adalah "muda atau sangat muda".
Akibat kerusuhan ini Perdana Menteri Elisabeth Borne mengumumkan pembatalan acara berskala besar -- seperti konser -- di seluruh negeri.
Dalam kerusuhan tersebut, bus dan trem, yang menjadi sasaran kekerasan pada beberapa malam sebelumnya, berhenti beroperasi pada pukul 21:00 dan penjualan kembang api besar serta cairan yang mudah terbakar telah dilarang. (SKYnews)
International
Sabtu, 1 Juli 2023 | 09:47 WIB
ebanyak 45000 petugas polisi yang didukung oleh kendaraan lapis baja ringan dikerahkan otoritas Prancis untuk mengatasi aksi-aksi protes selama empat malam berturut-turut
Oleh