BEIJING, Radio Bharata Online - Perdana Menteri Selandia Baru Chris Hipkins pada hari Senin mengumumkan, bahwa ia akan mengunjungi Tiongkok pada akhir Juni dengan delegasi perdagangan. Bila rencana ini terlaksana, akan menjadi kunjungan perdana menteri pertama Selandia Baru ke Tiongkok sejak pandemi.
Di tengah dorongan kuat AS untuk Strategi Indo-Pasifiknya di Pasifik Selatan, Tiongkok dan Selandia Baru menunjukkan bagaimana negara-negara dengan sejarah, budaya, dan sistem yang berbeda, dapat mencari titik temu sambil tetap mempertahankan perbedaan, sehingga keduanya dapat memperoleh manfaat, dan bersama-sama menyuntikkan hal positif ke kawasan dan dunia.
Hipkins, menggambarkan hubungan Tiongkok-Selandia Baru sebagai paling signifikan, luas dan kompleks. Menurutnya, hubungan perdagangan Selandia Baru-Tiongkok, yang didukung oleh perjanjian perdagangan bebas yang baru saja ditingkatkan, telah terbukti sangat tangguh dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin, tanpa mengonfirmasi rencana kunjungan Hipkins, pada konferensi pers rutin hari Senin mengatakan, Tiongkok siap bekerja sama dengan Selandia Baru untuk mempertahankan pertukaran tingkat tinggi, meningkatkan rasa saling percaya dan memperdalam kerja sama praktis, untuk mencapai kemajuan yang lebih besar dalam hubungan bilateral, dan membawa lebih banyak manfaat bagi kedua negara.
Chen Hong, direktur Pusat Studi Selandia Baru di East China Normal University, kepada Global Times pada hari Senin mengatakan, Kunci dari perkembangan yang stabil dan pencapaian yang bermanfaat, dalam hubungan Tiongkok-Selandia Baru, adalah bahwa kedua negara berusaha untuk memaksimalkan kesamaan, sambil mempertahankan perbedaan.
Ekspor Selandia Baru ke Tiongkok menyumbang sekitar seperempat dari total pendapatan ekspor Selandia Baru. Dan kedua negara mengincar kerja sama yang lebih besar dengan Perjanjian Perdagangan Bebas yang telah diperbarui, dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional. (Global Times)