DUBAI, Radio Bharata Online - Sambil mempromosikan adaptasi iklim di dalam negeri, Tiongkok akan terus mendukung negara-negara berkembang lainnya untuk beradaptasi terhadap krisis iklim.

Wakil menteri ekologi dan lingkungan hidup Tiongkok, Zhao Yingmin, pada konferensi perubahan iklim COP28 Dubai, pada pertemuan hari Rabu mengatakan, seringnya kejadian cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim, telah mengakibatkan kerusakan yang semakin besar di Tiongkok dan di seluruh dunia.  Sekitar 3 miliar orang di seluruh dunia kini berada dalam lingkungan yang sangat rentan akibat pemanasan global.  Mengutip laporan dari Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim, Zhao mengatakan, kerugian ekonomi tahunan akibat perubahan iklim telah mencapai US$380 juta.

Dikatakan, dari tahun 2004 hingga 2022, sekitar 283 juta orang di Tiongkok terkena dampak bencana meteorologi setiap tahun. Rata-rata, bencana-bencana ini setiap tahunnya mengakibatkan kerugian ekonomi langsung sebesar 310 miliar yuan (US$43,3 miliar).

Dalam menghadapi krisis iklim yang mendesak, semua pihak harus segera melakukan tindakan adaptasi secara komprehensif, untuk meminimalkan dampak dan kerugian yang ditimbulkan oleh krisis tersebut.

Faktanya, negara-negara berkembang dihadapkan pada dampak perubahan iklim yang lebih besar. Mereka perlu segera meningkatkan kemampuan dalam adaptasi iklim.

Zhao mengatakan, Tiongkok selalu secara proaktif mendukung negara-negara berkembang lainnya untuk meningkatkan kemampuan adaptasi iklim mereka.

Selain memberikan bantuan mikrosatelit penginderaan jarak jauh untuk Ethiopia, Tiongkok juga menyumbangkan sistem penerimaan dan pemrosesan data seluler, untuk satelit lingkungan dan meteorologi ke Bolivia, Uruguay, dan Botswana. (Chinadaily)