BEIJING, Radio Bharata Online - Rencana Jepang untuk membuang air limbah yang terkontaminasi nuklir dari Fukushima ke Samudera Pasifik, akan mempengaruhi kesehatan masyarakat di setiap negara, lingkungan laut global, dan kepentingan masyarakat internasional.

Jepang harus menghadapi kekhawatiran yang sah dan masuk akal di dalam dan luar negeri, dan mencabut keputusannya atas rencana dumping. Demikian antara lain pernyataan Duta Besar Tiongkok untuk Jepang, Wu Jianghao pada konferensi pers pada hari Selasa di Tokyo.

Konferensi pers diadakan oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Jepang, untuk menjelaskan sikap Tiongkok terhadap rencana sepihak Jepang untuk membuang air limbah yang terkontaminasi nuklir ke laut.

Juga, pada hari Selasa, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Mariano Grossi, dijadwalkan untuk memulai perjalanan empat hari ke Jepang, dan mengunjungi pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi.

Baru-baru ini, semakin banyak negara dan pakar yang menyuarakan keprihatinan atas rencana Jepang untuk membuang air yang terkontaminasi nuklir, dari pembangkit Fukushima Tokyo Electric Power Co ke laut.

Lebih dari 80 persen responden di 11 negara di kawasan Asia-Pasifik kecuali Jepang, mengatakan rencana pembuangan air yang terkontaminasi nuklir ke laut adalah "tidak bertanggung jawab" dan hampir 90 persen responden menyatakan sentimen negatif, termasuk kekhawatiran dan keterkejutan terhadap rencana tersebut.  Sementara 94 persen dari mereka menganggap langkah itu akan berdampak negatif tidak hanya di Jepang dan negara-negara Lingkar Pasifik, tetapi juga seluruh dunia.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Global Times Research Center menunjukkan, bahwa rencana Jepang untuk membuang air yang terkontaminasi nuklir ke laut, tidak memiliki legitimasi.

Duta Besar Tiongkok mengatakan bahwa pihak Jepang tidak melakukan konsultasi yang memadai dengan negara tetangga dan pemangku kepentingan lainnya, dan secara sepihak mengambil keputusan untuk membuang air yang terkontaminasi. Padahal, rencana yang diberlakukan pemerintah Jepang bukanlah satu-satunya pilihan maupun solusi pembuangan yang paling aman dan optimal.

Dubes Wu mengatakan, rencana pembuangan akan menimbulkan risiko besar bagi lingkungan laut global dan kesehatan manusia, karena air limbah Fukushima yang terkontaminasi nuklir, bersentuhan langsung dengan inti reaktor yang meleleh dalam kecelakaan nuklir Fukushima, dan mengandung lebih dari 60 jenis nuklida radioaktif.

Wu menambahkan, tidak ada teknologi pemurnian yang efektif saat ini untuk mengolah air, dan bahwa beberapa nuklida radioaktif dan nuklida berumur panjang, dapat berdifusi dengan arus laut, dan meningkatkan jumlah total radio nuklida di alam.

Kecelakaan nuklir Fukushima sejauh ini telah menghasilkan lebih dari 1,3 juta ton air yang terkontaminasi nuklir. Belum ada preseden untuk mengolah air yang terkontaminasi nuklir dalam jumlah sebesar itu, dengan komposisi yang begitu rumit.

Rencana pembuangan akan berlangsung selama 30 tahun atau bahkan lebih lama, dan sejumlah besar air yang terkontaminasi nuklir, akan diproduksi di masa mendatang.

Efektifitas teknologi Advanced Liquid Processing System (ALPS) yang akan diterapkan Jepang, belum dievaluasi atau disertifikasi oleh pihak ketiga.  Menurut Wu, hal ini meninggalkan keraguan besar tentang keandalan perangkat pemurnian jangka panjang.  (Global Times)