JAKARTA, Radio Bharata Online - Para menteri luar negeri dari negara-negara Kelompok Tujuh (G7) bertemu di Tokyo pada hari Selasa, dalam upaya untuk menemukan titik temu mengenai konflik Palestina-Israel. Namun menurut para pengamat, mengingat semakin besarnya perbedaan pendapat di antara negara-negara anggota mengenai konflik yang sedang berlangsung, blok tersebut kemungkinan tidak akan efektif mengadvokasi gencatan senjata, yang selanjutnya akan menunjukkan ketidakmampuan negara-negara ini dalam menghentikan krisis kemanusiaan di Gaza.

Sebagai negara ketua, Jepang menjadi tuan rumah pertemuan para menteri luar negeri G7 kedua tahun ini di kawasan Minato, Tokyo pada hari Selasa dan Rabu. Menurut media Jepang, para pejabat akan bertukar pandangan mengenai beberapa masalah besar, terkait keamanan internasional yang sedang berlangsung, khususnya perang Palestina-Israel dan krisis Ukraina.

Media Jepang melaporkan bahwa para menteri G7 dijadwalkan untuk menyusun dokumen hasil pada hari Rabu, di mana mereka diharapkan menyetujui perlunya “jeda” dalam konflik, untuk menyalurkan pasokan penting kepada warga sipil di Gaza. Namun frasa tersebut tidak dapat dibahas secara umum, mengingat perbedaan yang semakin besar.

Yang Xiyu, peneliti senior di China Institute of International Studies, mengatakan kepada Global Times, pada tanggal 22 Oktober, enam negara G7, kecuali Jepang, mengeluarkan pernyataan berpihak pada Israel. Namun, ketika operasi militer Israel di Gaza telah meningkatkan krisis kemanusiaan dan bahkan melampaui batas-batas moral, beberapa anggota kelompok tersebut merasa semakin sulit untuk mentoleransi tindakan Israel, yang mengakibatkan perpecahan yang semakin besar di dalam G7 antara Amerika dan negara-negara lain. (Global Times)