Teheran, Radio Bharata Online - Pasca bertahun-tahun bermusuhan secara terbuka, Iran dan Arab Saudi telah bekerja untuk memulihkan hubungan bilateral setelah pembicaraan yang difasilitasi oleh Tiongkok pada bulan Maret 2023 lalu. 

Ini merupakan perkembangan signifikan bagi kedua negara dan anugerah bagi keamanan regional dan kerja sama ekonomi Timur Tengah, kata rakyat Iran selama wawancara dengan China Central Television (CCTV) di Teheran.

Pada bulan Maret 2023 lalu, Arab Saudi dan Iran mencapai kesepakatan untuk melanjutkan hubungan diplomatik dan membuka kembali kedutaan dan misi di negara masing-masing dalam waktu dua bulan. Dan setelahnya, tepatnya 6 April 2023, kedua negara mengumumkan dimulainya kembali hubungan diplomatik dengan segera.

Pada hari Senin (1/5), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa tiga misi diplomatik Iran di Arab Saudi telah kembali beroperasi.

"Saya kira peningkatan hubungan antara Iran dan Arab Saudi dapat menghilangkan ketegangan di Yaman, Lebanon, Suriah, dan negara-negara lain di kawasan (Timur Tengah). Perdamaian semacam ini tidak hanya terkait dengan Iran dan Arab Saudi, tetapi juga dapat mengarah pada perdamaian di seluruh wilayah dan mempromosikan pembangunan sosial," kata Hussein, seorang warga Teheran.

Selain pemulihan hubungan diplomatik, beberapa orang Iran mengatakan kedua negara dapat memulai kerja sama ekonomi seperti di bidang energi, yang akan membantu mengimbangi dampak sanksi sepihak Amerika Serikat terhadap Iran.

"Dalam jangka panjang, dengan dukungan masyarakat internasional, langkah ini akan mengurangi dampak sanksi negara-negara Barat terhadap Iran. Dengan meredanya ketegangan regional, akan lebih mudah bagi Iran untuk melakukan bisnis (dengan negara lain)," ujar Yasser, penduduk Teheran lainnya.

Selama wawancara, penduduk Teheran memuji Tiongkok atas perannya dalam menengahi dimulainya kembali hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi, dan mempromosikan pembicaraan untuk perdamaian di Timur Tengah, yang menurut mereka sangat kontras dengan Amerika Serikat.

"Ketika kita meneliti peran Amerika Serikat di dunia, kita akan menemukan bahwa AS sering menggunakan kepentingan ekonomi untuk menciptakan ketegangan regional. Faktanya, perbedaan antara Tiongkok dan Amerika Serikat adalah bahwa pemerintah Tiongkok membantu negara memanfaatkan potensi dan kemampuan mereka untuk mempromosikan pembangunan regional, sementara AS mencoba untuk mendapatkan sumber daya regional dengan menciptakan ketegangan antar negara," jelas Yasser.