QINZHOU, Bharata Online – Industri keramik tradisional Tiongkok terus menunjukkan geliat ekspansi ke pasar internasional. Salah satu pelaku usaha yang turut menggerakkan sektor ini di kawasan Tiongkok Selatan adalah Qinzhou Shenxiu Ceramic Co., Ltd., perusahaan manufaktur keramik yang berbasis di Kota Qinzhou, Daerah Otonom Guangxi Zhuang.

Berada di wilayah yang dikenal luas sebagai pusat warisan Tembikar Nixing Qinzhou (Qinzhou Nixing Pottery), perusahaan ini memadukan teknik pengerjaan keramik tradisional dengan standar produksi modern, untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor.

Kota Qinzhou merupakan rumah bagi salah satu dari empat jenis tembikar paling terkenal di Tiongkok, yang memiliki sejarah lebih dari 1.300 tahun. Produk keramik dari kawasan ini dikenal menggunakan bahan baku tanah liat alami, khas dari kedua sisi Sungai Qinjiang yang kaya akan mineral.

Manajer Umum Qinzhou Shenxiu Ceramic Art Co., Ltd., Zhou Jianyu, kepada rombongan jurnalis Media Mitra ASEAN mengatakan, Keramik Nixing adalah seni keramik tradisional khas Qinzhou. Pada tahun 2008, teknik pembakarannya masuk ke dalam daftar warisan budaya takbenda tingkat nasional gelombang kedua.  Keramik Nixing menggunakan dua jenis tanah liat dari tepi timur dan barat Sungai Qin: "Tanah Liat Merah Ungu" yang berwarna merah keunguan dan keras, serta "Tanah Liat Putih Panca Warna" yang berwarna putih dan halus. Keduanya harus dicampur dan diolah secara proporsional agar dapat dibentuk.  Menurut Zhou, sifat tanah liat akan memengaruhi hasil pembentukan, ukiran, dan pembakaran, artinya, karakteristik produk akhir sudah terbentuk sejak tahap bahan baku.

Melalui proses pembakaran suhu tinggi sekitar 1.200 derajat Celsius tanpa lapisan glasir kimiawi, keramik khas Qinzhou menghasilkan tekstur yang padat, halus, serta perubahan warna alami yang unik (furnace transmutation). Karakteristik inilah yang membuat produk perlengkapan teh, wadah penyimpanan, hingga kerajinan dekoratif asal Qinzhou sangat diminati oleh kolektor dan konsumen mancanegara.

Selama bertahun-tahun, perhatian besar yang diberikan oleh Komite Partai dan Pemerintah Kota Qinzhou terhadap perkembangan industri keramik Nixing, telah menghidupkan kembali industri budaya tradisional ini. Guna menangkap peluang emas ini dengan mantap, Shenxiu memanfaatkan momentum tersebut, dan berhasil menuntaskan proses perkembangan dari kecil menjadi besar, serta dari lemah menjadi kuat dalam waktu yang relatif singkat. Kini, perusahaan telah berkembang menjadi produsen keramik Nixing yang memiliki tingkat inovasi ilmiah.

Seiring meningkatnya minat global terhadap produk kerajinan berkelanjutan dan bernilai budaya tinggi, kehadiran entitas bisnis seperti Qinzhou Shenxiu Ceramic Co., Ltd. berperan penting dalam memperkuat rantai pasok industri keramik lokal. Berdasarkan laporan media nasional Tiongkok seperti Xinhua News, pemerintah dan pelaku industri di Qinzhou aktif memanfaatkan berbagai pameran budaya, serta jalur perdagangan Jalur Sutra Maritim untuk memperluas jangkauan ekspor tembikar ke puluhan negara.

Sementara itu beberapa jurnalis juga berkesempatan mencoba menuangkan kreasinya, membuat gambar ukiran pada guci kecil sebagai kenang-kenangan yang bisa dibawa pulang.  

Disini juga dipajang Guci Besar ASEAN, yang dihiasi ornamen simbol bangunan-bangunan ikonik dari negara-negara ASEAN, misalnya Candi Borobudur Indonesia, Menara Kembar Petronas Malaysia, Patung Merlion Singapura, Istana Raja Bangkok Thailand, Katedral Manila Filipina, Lapangan Ba Dinh Vietnam, Angkor Wat Kamboja, Pha That Luang Vientiane Laos, dan Pagoda Shwedagon Yangon Myanmar.  Guci ASEAN juga  dihiasi dengan bunga nasional masing-masing negara, yang memadukan keberagaman pesona budaya ASEAN.

Dengan menggabungkan desain kontemporer dan warisan seni ukir tradisional, Qinzhou Shenxiu Ceramic Co., Ltd. diproyeksikan terus menjadi bagian dari ekosistem manufaktur kreatif yang menopang pertumbuhan ekonomi lokal di Guangxi sekaligus memperkenalkan kekayaan seni keramik Tiongkok ke kancah dunia. (Bharata Online)