BEIJING, Radio Bharata Online - Patroli strategis udara gabungan keenam, oleh militer Tiongkok dan Rusia diperpanjang hingga hari kedua, di atas Pasifik Barat pada hari Rabu.  Patroli ini menandai pertama kalinya operasi semacam itu dilakukan dalam dua fase, dan dalam dua arah, seiring dengan kerja sama militer Tiongkok-Rusia yang terus diperdalam.

Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok, dalam sebuah siaran pers mengatakan, militer Tiongkok dan Rusia menyelesaikan misi fase kedua dari patroli strategis udara gabungan keenam, di atas perairan barat Samudra Pasifik pada hari Rabu.

Berdasarkan jadwal kerja sama tahunan antara kedua militer, patroli gabungan diluncurkan pada hari Selasa, dengan dua pesawat pengebom H-6K Tiongkok dan dua pesawat pengebom Tu-95 Rusia, yang mencakup wilayah di atas Laut Jepang dan Laut Tiongkok Timur, dikawal oleh jet tempur.

Lima patroli strategis udara gabungan sebelumnya, yang diadakan sejak tahun 2019, biasanya dilakukan dalam satu hari.

Dengan mengadakan patroli bersama dalam dua fase, dan dalam dua arah yang berbeda, operasi itu menjadi lebih menantang, dan menuntut dalam hal perencanaan operasi dan pertemuan pesawat terbang.

Hal ini mengharuskan pasukan Tiongkok dan Rusia untuk terus berlatih, agar dapat bekerja sama dengan sempurna, mengingat kedua negara menerbangkan pesawat terbang yang berbeda, dan menggunakan sistem navigasi dan kontrol yang berbeda.  Dan operasi dilakukan di atas lautan yang jauh.

Pakar militer dan komentator TV Tiongkok Song Zhongping, kepada Global Times pada hari Rabu mengatakan, bahwa kedua fase tersebut mungkin menampilkan misi yang berbeda.  Menurut Song, tujuan misi di Laut Jepang dan Laut Tiongkok Timur, kemungkinan besar berbeda dengan misi di Pasifik Barat.

Patroli yang diperluas ini, menunjukkan kerja sama militer yang semakin mendalam antara Tiongkok dan Rusia, yang sangat penting untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia-Pasifik. (Global Times)