JAKARTA, Radio Bharata Online - Kelompok Kerjasama Multilateral yang beranggotakan Tiongkok, India, Rusia, Afrika Selatan dan Brasil (BRICS) sedang naik daun. Itu dikarenakan menguatnya posisi geopolitik Tiongkok dan Rusia. Apalagi, dunia juga sedang marah dan bosan dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang terlalu arogan dalam mendominasi panggung politik dan ekonomi global.

Duta Besar Tiongkok untuk Rusia Zhang Hanhui mengungkapkan 13 negara menunjukkan minat pada BRICS. Mereka telah mengajukan ide-ide yang menjanjikan dan strategis untuk pengembangan kelompok tersebut di masa depan “Tidak hanya para pemimpin dari lima (negara) BRICS yang ambil bagian dalam tiga acara BRICS+, tetapi juga para pemimpin dari 13 negara berkembang lainnya.

Di antara negara-negara mayoritas Muslim yang ingin masuk ke dalam blok tersebut adalah Aljazair. Secara khusus, negara tersebut telah mengumumkan pada bulan November bahwa mereka telah secara resmi mengajukan permohonan untuk bergabung dengan kolektif tersebut, yang disambut baik oleh Rusia dan China.

Selain itu, negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, Turki, dan Mesir telah mengonfirmasi minat mereka untuk bergabung dengan blok tersebut. Mereka bergabung dengan negara-negara seperti Bangladesh, yang juga telah mengajukan aplikasi resmi baru-baru ini.

Selain itu, bersama dengan Indonesia jugA akan bergabung Uni Emirat Arab (UEA) YANG dipandang sebagai tambahan yang positif. Apalagi jika Suriah dan Sudan ikut bergabung maka ini menjadi  tambahan potensial untuk aliansi BRICS.

Tahun ini tampaknya banyak negara telah melihat peningkatan relevansi untuk blok ekonomi BRICS. Dimulai dengan sanksi Barat yang dikenakan pada kolektif, aliansi tersebut telah melakukan upaya de-dolarisasi di tengah pertumbuhannya yang pesat. Selanjutnya, sejumlah besar negara berkembang telah berusaha masuk ke dalam blok tersebut saat pertemuan puncak tahunannya tiba hanya dalam beberapa bulan lagi. (Watcher)