EIJING, Radio Bharata Online - Kementerian Luar Negeri Tiongkok menanggapi pemberitaan media AS, yang mengatakan bahwa Tiongkok menolak peluang pertemuan antara pimpinan pertahanan Tiongkok dan AS. Menurut Kementrian, itulah sebabnya, mengapa dialog militer Tiongkok-AS menghadapi kesulitan.
Pada hari Senin waktu setempat, The Wall Street Journal (WSJ) mengutip pernyataan Pentagon. Menurut laporan WSJ, Pentagon menyebut Tiongkok menolak undangan AS pada awal Mei, untuk mempertemukan Penasihat Negara sekaligus Menteri Pertahanan Nasional Tiongkok Li Shangfu, dan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin, di Singapura pada hari Jumat hingga Minggu.
Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, pada konferensi pers hari Selasa mengatakan, bahwa AS harus dengan sungguh-sungguh menghormati kedaulatan, keamanan, dan kepentingan Tiongkok, segera memperbaiki praktik yang salah, menunjukkan ketulusan, serta menciptakan suasana dan kondisi yang diperlukan, untuk dialog dan komunikasi antara militer Tiongkok dan AS.
Dalam jumpa pers rutin itu, Mao menjelaskan bahwa AS harus lebih dulu menghilangkan batu sandungan, dalam upaya menuju komunikasi bilateral yang ditetapkan oleh pihak AS.
Pada saat berita ini diturunkan, pernyataan yang disebutkan oleh WSJ belum muncul di situs web Pentagon.
Para ahli menilai, bahwa desas-desus di media, dan keheningan asimetris Pentagon atas pembicaraan langsung antara kepala pertahanan Tiongkok dan AS, dapat dilihat sebagai balon percobaan terbaru AS, untuk menekan dan mengkambing hitamkan Tiongkok, supaya Beijing bertanggung jawab jika pada akhirnya tidak ada pertemuan.
Song Zhongping, seorang pakar militer dan komentator TV Tiongkok, kepada Global Times mengatakan bahwa hubungan militer antara Tiongkok dan AS telah mencapai titik terendah. Ini karena provokasi AS yang terus menerus, termasuk pengintaian jarak dekat di wilayah pinggiran Tiongkok, dan permainan kartu Taiwan yang tidak bermoral.
Dengan latar belakang ini, ketika memasang wajah proaktif untuk mencoba berbicara dengan Tiongkok, tujuan utama AS bukanlah tentang pertemuan itu sendiri, tetapi membuat pertunjukan munafik untuk audiens, baik di dalam maupun di luar negeri. Menurut Song, dialog dengan tujuan seperti itu, bahkan kalaupun benar terjadi, tidak akan membuahkan hasil yang memiliki signifikansi dan nilai praktis. (Global Times)