BEIJING, Radio Bharata Online - Para ilmuwan telah bertahun-tahun mendukung tujuan untuk membatasi pemanasan global pada 1,5 derajat Celcius, untuk menghindari dampak yang paling berbahaya bagi planet ini. Namun, sebuah analisia baru menyebutkan, bahwa batas untuk mencegah bahaya yang signifikan bagi manusia hanyalah 1oC.

Peringatan yang diterbitkan di jurnal Nature pada minggu ini, dinilai terlambat, karena Bumi telah memanas sekitar 1,2 oC sejak zaman pra-industri.

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization) mengatakan, bahwa kenaikan suhu rata-rata global, kemungkinan besar tidak akan melampaui 1,5 oC, yang merupakan tujuan paling ambisius dari Perjanjian Paris 2015 untuk mengatasi perubahan iklim.

Melihat prospek ini, ilmuwan iklim terkemuka Johan Rockstrom, yang turut menulis studi baru tersebut, dalam sebuah wawancara mengatakan, bahwa sangat penting bagi para pembuat kebijakan dan masyarakat, untuk mengetahui bahwa planet ini sudah berada di wilayah yang sangat berisiko. Dia mengatakan, jika kita benar-benar peduli dengan manusia, kita harus memahami bahwa ada begitu banyak bukti ilmiah saat ini, yang menunjukkan bahwa zona pendaratan yang aman dan adil, sebenarnya sudah terlampaui.  Para ahli menemukan bahwa 1 OC sudah sama dengan bahaya yang signifikan.

Penelitian yang dipimpin oleh Komisi Bumi, sekelompok ilmuwan yang bekerja di bidang keberlanjutan, sebelumnya telah menemukan bahwa pemanasan yang melebihi 1,5 OC, berisiko memicu titik kritis bagi perubahan yang tidak dapat dipulihkan pada sistem bumi, seperti lapisan es dan terumbu karang.

Dalam studi baru ini, mereka menambahkan elemen "keadilan" untuk mengetahui tingkat pemanasan, yang membawa dampak yang parah dan meluas bagi manusia seperti kematian, pengungsian dan penyakit kronis, serta hilangnya pendapatan, makanan dan air.

Menurut Rockstrom, direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research, perubahan suhu 1OC sudah cukup mendefinisikan bahaya yang signifikan, dengan jutaan orang, komunitas, negara dan wilayah yang terkena dampak secara permanen. (CGTN)