BEIJING, Radio Bharata Online - Sebuah insiden "foto menyeramkan" baru-baru ini telah menimbulkan kehebohan di situs jejaring sosial Tiongkok.

Seorang wanita muda, mengunggah video yang menunjukkan seorang pekerja migran sedang berjongkok, merekam seseorang di dalam kereta bawah tanah di Guangzhou. Dan wanita ini juga mengaku merekamnya secara diam-diam.

Secara online si wanita mengklaim, bahwa pekerja migran tersebut adalah seorang residivis pencabulan yang mencoba merekamnya.

Merasa dipermalukan karena video itu menjadi viral, anak pekerja migran tersebut menghubungi polisi. Ketika diketahui bahwa pekerja migran tersebut tidak membuat video atau mengambil foto wanita muda tersebut, dia kemungkinan dipaksa oleh opini publik online untuk meminta maaf atas perilakunya.

Menurut Hukum Perdata Tiongkok, membuat, menggunakan, atau menampilkan kemiripan seseorang di depan umum tanpa persetujuan orang tersebut adalah ilegal.

Oleh karena itu, jika foto atau video seseorang diposting di situs jejaring sosial tanpa persetujuannya, dan tidak termasuk dalam kategori penggunaan yang wajar seperti yang didefinisikan oleh hukum, maka hal tersebut dianggap sebagai pelanggaran hak individu atas kemiripannya.

Qiao Xinsheng, seorang profesor hukum di Universitas Ekonomi dan Hukum Zhongnan, mengatakan bahwa wanita muda tersebut telah melanggar hak-hak pekerja migran tersebut, dengan mengunggah videonya secara online tanpa sepengetahuannya. Terlebih lagi setelah Qiao bertemu dengan pekerja migran tersebut di kereta bawah tanah, dan memeriksa telepon genggamnya, dan tidak menemukan adanya foto atau video pada pekerja migran tersebut.

Tindakannya telah melanggar hak pekerja migran tersebut atas nama baik dan reputasinya, dan dia dapat menuntutnya.

Insiden kecil ini telah menunjukkan betapa bodohnya orang-orang terhadap hukum.

Sungguh mengejutkan bahwa wanita muda berpendidikan tinggi itu, yang sedang mengambil gelar masternya di Universitas Sichuan, tidak mengetahui hukum dasar dan konsekuensi dari tindakannya.

Tidak seperti pekerja migran tersebut, yang belum memahami besarnya badai online yang ia hadapi, wanita yang melek internet ini seharusnya sudah mengetahui lebih baik tentang kekuatan media sosial, dan bagaimana sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab bisa mengarah pada kekerasan dunia maya.

Yang paling membuat orang geram adalah ketidakseimbangan kekuatan dan pengetahuan yang nyata di antara keduanya, dan penindasan terhadap mereka yang berada di lapisan bawah masyarakat, oleh mereka yang dianggap elit.

Karena insiden yang menyeramkan sering menjadi berita, maka penting untuk mempublikasikan hukum dan aturan yang relevan, agar masyarakat mengetahui hak dan kewajiban mereka. Di era ponsel pintar, sangat mudah untuk mengklik foto atau membuat video, dan mempostingnya secara online, tetapi jika niatnya buruk, tindakan seperti itu dapat membuat orang yang dihadapkan pada kamera, mengalami masalah serius. (China Daily)