BEIJING, Radio Bharata Online - Perdana Menteri negara kepulauan Fiji, Sitiveni Rabuka, pada hari Rabu mengungkapkan niatnya untuk berkolaborasi dengan Tiongkok, dalam proyek modernisasi pelabuhan dan galangan kapal utama. Potensi kerja sama berdasarkan rasa saling menghormati dan saling menguntungkan ini telah disorot dan dibesar-besarkan oleh beberapa media Barat, yang kembali mencoba menggambarkan Tiongkok sebagai negara agresor.

Tuduhan seperti itu hanya menunjukkan bahwa blok Barat, terutama AS dan Australia, masih memeluk mentalitas kolonial, berupaya mengganggu kerja sama yang berhubungan dengan Tiongkok di kawasan, dan menjadikannya sebagai “wilayah terlarang,” semata-mata untuk keuntungan mereka.

Para pakar di Tiongkok melihat, bahwa Tiongkok dan Fiji sebagai dua negara yang berdaulat dan independen, mempunyai hak untuk terlibat dalam kerja sama demi kepentingan bersama, sebuah tujuan yang tidak dapat dicela.

Menurut kantor berita AP, Rabuka mengatakan kepada parlemen Fiji pada hari Rabu, bahwa pemerintahnya fokus pada peningkatan infrastruktur, khususnya modernisasi fasilitas pelabuhan dan galangan kapal. Rabuka melihat potensi kolaborasi dengan Tiongkok, mengingat pembuatan kapal Tiongkok mempunyai reputasi yang baik, dan kompetitif secara global.

Reuters melaporkan bahwa Tiongkok adalah pembuat kapal terbesar di dunia, menyumbang setengah dari seluruh kapal yang dibangun pada tahun ini.

Rabuka mengatakan bahwa Inisiatif Sabuk dan Jalan yang dijalankan Beijing, selaras dengan agenda pembangunan negaranya.

Dia juga menambahkan bahwa diskusi sedang dilakukan untuk mengatasi krisis utang Fiji secara bertanggung jawab.  Fiji memiliki utang luar negeri yang setara dengan 56 persen produk domestik bruto, yang sebagian besar merupakan utang kepada bank pembangunan multilateral.

Pernyataan tersebut disampaikan pemimpin Fiji itu, setelah pertama kali bertemu dengan pemimpin Tiongkok di sela-sela forum APEC di San Francisco. (Global Times)