JAKARTA, Radio Bharata Onloine - Seiring berjalannya tahun 2025, BRICS terus melakukan ekspansi, dengan Indonesia secara resmi bergabung sebagai anggota penuh terbarunya, dan delapan negara lainnya menjadi negara mitra. Hal ini menunjukkan vitalitas kelompok yang tumbuh, representasi, pengaruh, serta daya tarik yang semakin kuat di panggung global.

BRICS yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, kini mencakup hampir setengah dari populasi global, atau lebih dari sepertiga ekonomi global, dan lebih dari setengah pertumbuhan ekonomi dunia.

Indonesia, yang merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, merupakan negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS sebagai anggota penuh, sejak kelompok tersebut membuka pintu untuk ekspansi pada tahun 2023. Adapun negara mitra BRICS yang baru termasuk Malaysia dan Thailand.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan pada hari Selasa, bahwa Jakarta melihat keanggotaannya dalam BRICS, sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kolaborasi dan kerja sama dengan negara-negara berkembang lainnya, serta komitmen untuk memperkuat kerja sama multilateral, guna menciptakan struktur global yang lebih inklusif dan adil.

Saat BRICS memasuki era baru kerja sama yang lebih besar, Tiongkok telah beberapa kali menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan keluarga BRICS, guna merangkul semangat keterbukaan, inklusivitas, dan kerja sama yang saling menguntungkan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun dalam jumpa pers rutin pada hari Selasa mengatakan, "Masa depan sangat menjanjikan bagi kerja sama BRICS yang lebih besar." 

Dalam pidatonya di KTT BRICS ke-16 di Kazan, Rusia, pada bulan Oktober, Presiden Xi Jinping menganjurkan pengembangan kerja sama BRICS yang lebih baik dan berkualitas tinggi, dengan menyerukan negara-negara BRICS untuk membangun mekanisme multilateral tersebut, menjadi tempat utama solidaritas dan kerja sama bagi negara-negara berkembang, dan pelopor reformasi tata kelola global. (China Daily)