Shandong, Radio Bharata Online - Calon mahasiswa pascasarjana Rustambek Kyzy Zhazgu dan calon perancang busana Aizhan Beishebaeve, yang keduanya berasal dari Kirgistan, telah menemukan lebih dari sekadar rumah di provinsi pesisir timur Tiongkok, Shandong, untuk mengejar impian dan membantu membangun jembatan persahabatan antara Tiongkok dan tanah air mereka.

Lahir di sebuah desa bernama Kyzly-Jar di lembah wilayah selatan Jalal-Abad, Zhazgu pertama kali belajar tentang filsuf dan pendidik Tiongkok kuno, Konfusius (551 SM-479 SM) dari sebuah buku saat ia berusia delapan tahun.

Dua belas tahun kemudian, ia berhasil sampai ke kampung halaman Konfusius -- Kota Zibo di Shandong. Selama tinggal di Zibo, Zhazgu bertemu dengan banyak guru dan teman yang antusias yang membantunya belajar bahasa Mandarin.

Sekarang, saat mempersiapkan diri untuk ujian masuk sekolah pascasarjana yang akan datang, Zhazgu berpikir bahwa bahasa Mandarin adalah bahasa yang indah dan berharap dapat menjadi jembatan yang menghubungkan orang-orang Tiongkok dan Kirgistan.

"Saya ingin tetap tinggal di Shandong. Berkat Prakarsa Sabuk dan Jalan, banyak orang Tiongkok, terutama orang-orang dari Shandong, datang ke kampung halaman saya untuk membangun jalan dan jembatan. Saya juga ingin menjadi jembatan -- jembatan antara kedua negara kita," katanya.

Beishebaeve, teman sekelas Zhazgu, juga telah belajar bahasa Mandarin selama bertahun-tahun. Ia diterima di lima universitas Tiongkok, memberinya kesempatan untuk memilih universitas yang paling sesuai dengan jurusan yang diinginkannya.

"Saya benar-benar ingin tetap tinggal di Shandong, tetapi saya ingin belajar desain busana, dan tidak ada universitas yang cocok untuk mahasiswa internasional di sini. Jadi saya harus pergi untuk sementara waktu. Ketika saya pertama kali datang ke Tiongkok, saya hanya ingin belajar bahasa Mandarin. Saya ingat guru saya mengundang saya untuk berpartisipasi dalam sebuah acara, dan hari itu saya melihat pakaian tradisional Hanfu untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, saya jatuh cinta dengan desain busana. Jadi saya merasa telah menemukan impian saya di Shandong," ujarnya.