Sanya, Radio Bharata Online - Menurut para pejabat yang menghadiri pertemuan puncak di Provinsi Hainan, Tiongkok selatan, Tiongkok telah secara aktif terlibat dalam mendukung negara-negara Afrika dalam mentransformasi dan meningkatkan sektor pertanian mereka melalui inisiatif-inisiatif seperti Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) dan forum-forum Kerja Sama Tiongkok-Afrika.

Forum ke-2 tentang Kerja Sama Tiongkok-Afrika di Bidang Pertanian berlangsung di Sanya, Hainan, dari hari Senin (13/11) hingga Rabu (15/11).

Untuk membantu Afrika memodernisasi pertaniannya, Tiongkok berencana untuk membantu negara-negara Afrika mempromosikan varietas dan teknik pertanian yang lebih baik, meningkatkan mekanisasi pertanian, dan meningkatkan hasil per unit tanaman utama.

Tang Renjian, Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan Tiongkok, mengungkapkan pada Forum Kerja Sama Pertanian Tiongkok-Afrika Kedua bahwa volume perdagangan pertanian antara Tiongkok dan Afrika diproyeksikan akan melebihi 10 miliar dolar AS (sekitar 156 triliun rupiah) pada tahun 2023, hampir dua kali lipat dari jumlah yang tercatat sepuluh tahun sebelumnya.

Tiongkok bertujuan untuk melampaui 20 miliar dolar AS (sekitar 312 triliun rupiah) dalam volume perdagangan pertanian dengan Afrika dalam dekade berikutnya dan mendorong lebih banyak bisnis untuk berinvestasi di sektor pertanian Afrika melalui usaha patungan dan kerja sama.

"Tiongkok sebagai produsen utama mesin pertanian dan produsen, serta pengekspor peralatan dan teknologi ke Afrika berperan penting dalam mendorong mekanisasi dan meningkatkan efisiensi dalam peluang pertanian. Penting bagi kedua belah pihak untuk membangun kerangka kerja yang jelas untuk kolaborasi, mengatasi pertimbangan regulasi, dan mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan dalam sektor pertanian dan pangan," ujar Hailemariam Desalegn, Ketua Dewan Aliansi untuk Revolusi Hijau di Afrika (AGRA), yang juga merupakan mantan Perdana Menteri Ethiopia.

Menurut Yu Bu, penasihat senior, African Development Bank Group, sangat penting untuk memahami dan menghormati konteks lokal, budaya, dan persyaratan khusus negara-negara Afrika.

"Saya pikir, saat ini, pihak Afrika membutuhkan investasi, membutuhkan investasi transit dan produktivitas. Bagaimana cara melakukannya? Tiongkok memiliki pengalaman yang baik dalam beberapa dekade terakhir, kami memiliki banyak pengalaman, terutama di bidang keuangan. Kami mengizinkan lembaga keuangan berbiaya rendah untuk mendukung pertanian, terutama (untuk) petani kecil. Mereka dapat dengan mudah mengakses keuangan berbiaya rendah," kata Yu.