BEIJING, Radio Bharata Online – Juru Bicara Kementrian Pertahanan Tiongkok, Wu Qian pada hari Kamis mengatakan, Militer Tiongkok sangat prihatin dan akan bersiap menghadapi segala keadaan darurat yang mungkin terjadi di sepanjang perbatasan Tiongkok-Myanmar.  Wu mendesak pihak-pihak terkait untuk menghentikan pertempuran di Myanmar utara sesegera mungkin dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog.

Menurut Wu, Tiongkok memantau dengan cermat situasi di Myanmar utara, dan telah bekerja secara aktif untuk mendorong perundingan perdamaian.

Menurut jadwal pelatihan tahunan, Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), menyiagakan pasukan militernya dan meluncurkan latihan tempur tiga hari, di sisi Tiongkok, di perbatasan Tiongkok-Myanmar mulai Sabtu.

Wu mengatakan bahwa tujuan latihan Komando Teater Selatan PLA, adalah untuk menguji kemampuan pasukan di berbagai bidang seperti kemampuan manuver yang cepat dan blokade perbatasan, sehingga dapat lebih menjaga keamanan dan stabilitas di wilayah perbatasan, serta mempertahankan kehidupan dan harta benda masyarakat.

Song Zhongping, pakar militer dan komentator TV Tiongkok pada hari Kamis mengatakan, latihan tersebut merupakan bagian dari pertahanan kedaulatan dan keamanan nasional Tiongkok, serta menjaga stabilitas di sepanjang perbatasan Tiongkok-Myanmar, di tengah konflik domestik di Myanmar.  Song mengatakan, pendirian Tiongkok adalah, bahwa Myanmar harus menghentikan pertikaian dalam negerinya sesegera mungkin, dan hanya Myanmar yang damai, bersatu, dan stabil yang dapat memberikan landasan bagi pembangunan ekonomi.

Sementara itu Angkatan Laut PLA dalam siaran pers pada hari Selasa mengatakan, gugus tugas pengawal ke-44 Angkatan Laut PLA memulai kunjungan persahabatan selama empat hari ke Myanmar, ketika kapal perusak Tipe 052D Zibo dan fregat Tipe 054A Jingzhou tiba di Yangon.  Ini menandai keenam kalinya kelompok kapal perang Angkatan Laut PLA mengunjungi Myanmar.

Song mengatakan bahwa kunjungan kapal Angkatan Laut PLA ke Myanmar adalah rencana yang telah dijadwalkan sebelumnya, dan tidak terkait dengan konflik yang sedang terjadi di negara tersebut. (Global Times)