JAKARTA, Radio Bharata Online - Jepang telah mulai membuang lebih dari 1 juta ton air yang tercemar nuklir Fukushima Daiichi, ke Samudra Pasifik.
Kantor berita Kyodo melaporkan, tindakan itu telah memicu protes dan larangan impor, dari Tiongkok dan Hong Kong, serta kemarahan komunitas di sekitarnya terhadap penangkapan ikan.
Operator pembangkit listrik Tokyo Electric Power (Tepco), memompa sejumlah kecil air dari pembangkit listrik tersebut pada hari Kamis, dua hari setelah rencana tersebut disetujui oleh pemerintah Jepang.
Tepco mengatakan, pelepasan tersebut dimulai pada pukul 13.03 waktu setempat atau pukul 04.03 GMT, dan tidak mengidentifikasi adanya kelainan pada pompa air laut atau fasilitas di sekitarnya.
Proses pembuangan yang diperkirakan akan memakan waktu 30 hingga 40 tahun, telah menimbulkan kemarahan di negara-negara tetangga, dan kekhawatiran di kalangan nelayan, bahwa hal ini akan menghancurkan industri mereka karena konsumen menghindari makanan laut yang ditangkap di, dan sekitar Fukushima.
Menurut Tepco, air limbah itu awalnya dikeluarkan dalam jumlah kecil dan dengan pemeriksaan ekstra. Dan dengan volume pembuangan pertama berjumlah 7.800 meter kubik, diperkirakan akan berlangsung sekitar 17 hari.
Air tersebut terkontaminasi, setelah digunakan untuk mendinginkan tiga reaktor nuklir yang meleleh, setelah Fukushima Daiichi dilanda tsunami dahsyat pada Maret 2011. Gelombang tersebut melumpuhkan pasokan listrik cadangan, dan memaksa evakuasi 160.000 orang, yang merupakan kondisi terburuk dunia, sejak kecelakaan nuklir Chernobyl 1986.
Banyak teknologi digunakan untuk menghilangkan sebagian besar zat berbahaya, namun tetap saja tidak mampu menyaring tritium, isotop radioaktif hidrogen yang menurut Tepco relatif tidak berbahaya, karena tingkat radiasinya sangat lemah, dan tidak terakumulasi atau terkonsentrasi di dalam tubuh manusia.
Para pejabat Jepang mengatakan, air limbah yang sudah diencerkan dengan air laut sebelum dipompa ke Pasifik, sudah aman. (The Guardians)