Suzhou, Radio Bharata Online - Sekitar 290 guru kejuruan dan pekerja teknis dari Indonesia telah menerima pelatihan selama satu bulan di Kota Suzhou, Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur sejak akhir Juli lalu. Pelatihan ini mencakup bidang-bidang seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), robotika, internet industri, kendaraan energi baru, manufaktur cerdas, pemodelan informasi bangunan, dan biomedis.
Salah satu peserta pelatihan adalah Faisal Rifki, yang bekerja sebagai insinyur di Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dia menerima pelatihan di bidang internet industri dan teknik mesin.
"Robotika di sini kita pelajari, kita bisa meningkatkan, kita bisa mendorong pembangkit listrik untuk menggunakan teknologi yang lebih canggih. Kita bisa menggunakan robotika untuk menumpuk barang. Kita bisa menggunakan robotika untuk mengotomatisasi," kata Faisal Rifki.
Program ini merupakan bagian dari upaya Tiongkok untuk mempromosikan kerja sama berkualitas tinggi dengan negara Asia Tenggara di bawah Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) yang diusulkan Tiongkok, yaitu kebangkitan Tiongkok di era modern atas rute perdagangan Jalur Sutra kuno yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika. Tahun ini menandai ulang tahun ke-10 BRI, yang telah berkontribusi pada pembangunan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan mata pencaharian masyarakat di berbagai belahan dunia.
"Tiongkok telah menandatangani lebih dari 200 dokumen kerja sama BRI dengan 152 negara dan 32 organisasi internasional. Kami akan meluncurkan proyek-proyek kerja sama yang lebih inovatif di lebih banyak bidang, yang akan lebih pragmatis dan lebih bermanfaat bagi mata pencaharian masyarakat sehingga dapat mendorong pengembangan BRI yang berkualitas tinggi," kata Qiu Aijun, Wakil Direktur Pusat Kerja Sama Internasional di bawah Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok (National Development and Reform Commission/NDRC).
Sesi pelatihan lainnya untuk warga Indonesia dijadwalkan akan diadakan di Kota Xianyang, Provinsi Shaanxi, barat laut Tiongkok akhir tahun ini. Sebanyak 328 guru kejuruan dan pekerja teknis Indonesia diharapkan akan dilatih dalam dua sesi tersebut.
Pada bulan November 2022, NDRC dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman tentang pelatihan kejuruan industri, dengan tujuan untuk mendorong berbagi keterampilan dan pengalaman di sektor industri antara kedua negara.