SANYA, Radio Bharata Online - Wakil Kepala Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences (CATAS) Xie Jianghui mengatakan, Tiongkok akan membantu warga Afrika meningkatkan kualitas tanaman singkong yang jadi makanan utama di sana.
Sebagai informasi, Ilmuwan CATAS akan merekayasa singkong dengan teknik pertanian canggih di 500.000 hektar lahan di negara-negara Afrika, sehingga singkongnya besar-besar dan, rasanya gurih serta hasil panen bisa sekitar 17 ton per hektar
Rencana tersebut diumumkan dan mendapat tepuk tangan meriah pada Forum Kerja Sama Pertanian Tiongkok-Afrika kedua, yang berakhir pada hari Rabu di Kota Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan.
CATAS nantinya akan membantu negara-negara termasuk Nigeria, Mozambik dan Republik Kongo membiakkan varietas singkong yang lebih baik, meningkatkan teknik budidaya dan meningkatkan tingkat mekanisasi pertanian singkong.
Pemerintah juga akan membangun pusat percontohan pertanian untuk mempromosikan komersialisasi dan produksi skala besar di negara-negara penghasil singkong utama.
Xie mengatakan bahwa lembaga tersebut bertujuan untuk menghadirkan varietas singkong dan teknik pengolahan yang lebih baik ke Afrika, dengan tujuan ganda yaitu meningkatkan hasil panen guna meningkatkan ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan petani kecil guna mengurangi kemiskinan.
“Dua masalah besar yang dihadapi di Afrika adalah rendahnya produksi singkong per hektar dan kurangnya pengolahan untuk membantu tanaman yang ditanam oleh petani kecil memasuki pasar,” katanya.
CATAS menjadi yang terdepan dalam teknologi pemuliaan dan budidaya singkong Tiongkok di tengah upaya negara tersebut untuk menjamin keamanan pangan dan mengubah singkong menjadi bahan industri yang penting.
Lembaga ini telah membudidayakan lebih dari 20 varietas singkong yang berdaya hasil tinggi dan tahan penyakit, serta mengembangkan berbagai teknologi budidaya dan pengolahan singkong.
Tanaman singkong yang kaya akan pati ini menyediakan makanan bagi lebih dari 200 juta orang di Afrika dan merupakan tanaman ketahanan pangan yang penting bagi benua tersebut yang telah lama dilanda kelaparan dan kekurangan gizi.
Para peserta forum di Afrika memuji rencana tersebut dan mengatakan bahwa ini pada dasarnya adalah transfer teknologi yang akan memberdayakan Afrika dalam memerangi kelaparan dan kemiskinan.
Felix Dapare Dakora, mantan presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Afrika mengatakan, “Apa yang dibutuhkan Afrika adalah memastikan bahwa ada lebih banyak ilmuwan muda yang dapat bekerja sama dengan rekan-rekan Tiongkok untuk memperoleh teknologi yang relevan,”
[Xinhua]