BEIJING, Radio Bharata Online – Hari Rabu 13 September, Tokyo membuat dua keputusan berbahaya pada mengenai masalah Taiwan.  Yang pertama menunjuk seorang politisi "pro-Taiwan" sebagai menteri pertahanan baru dalam kabinet Kishida.  Dan yang kedua, menunjuk seorang pejabat atase pertahanan de facto di pulau Taiwan, sebagai wakilnya.

Para pengamat Tiongkok menilai tindakan Tokyo itu akan semakin mengikis fondasi hubungan Tiongkok-Jepang, dan akan menghadapi serangan balasan dari Tiongkok.

Para pengamat percaya bahwa perombakan kabinet yang dilakukan Kishida, menandakan Tokyo tidak mempunyai keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Beijing.  Sebaliknya akan ada lebih banyak hambatan dalam pertukaran di masa depan antara kedua negara bertetangga tersebut.

Pengamat menilai Jepang semakin nakal dan agresif dalam menentang prinsip satu Tiongkok, dan Jepang harus menghadapi konsekuensi atas tindakannya yang tidak sejalan dalam masalah Taiwan.

Kishida menunjuk Minoru Kihara, 54 tahun, yang pernah menjadi asisten mantan perdana menteri Shinzo Abe dan Yoshihide Suga, untuk menjadi menteri pertahanan, menggantikan Yasukazu Hamada. Kihara adalah anggota senior kelompok bipartisan, yang bertujuan untuk menjalin hubungan dengan pulau Taiwan.

Lü Yaodong, seorang peneliti di Institut Studi Jepang dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok mengatakan, kabinet baru Kishida kemungkinan besar akan menciptakan lebih banyak hambatan dalam hubungan antara Tiongkok dan Jepang.  Kishida tidak berusaha untuk meredakan ketegangan dengan Tiongkok, pada saat Tiongkok mengecam pembuangan air limbah Jepang yang terkontaminasi nuklir ke Samudera Pasifik.

Melalui perombakan tersebut, Kishida berharap mendapatkan dukungan dari kaum konservatif, yang secara tradisional lebih mengutamakan hubungan dengan AS dibandingkan dengan Tiongkok. (Global Times)