Brasil, Bharata Online - Menurut Ronnie Lins, Direktur Eksekutif Pusat Penelitian dan Bisnis Brasil-Tiongkok, modernisasi budaya tradisional Tiongkok dan perluasan kebijakan bebas visa merupakan beberapa inisiatif yang telah mendorong pertukaran budaya dengan negara lain.

Dalam sebuah wawancara dengan China Media Group (CMG), akademisi Brasil tersebut mengatakan bahwa para kreator Tiongkok telah mengeksplorasi interpretasi modern dari budaya tradisional dan diakui oleh konsumen di seluruh dunia. Ia juga menambahkan bahwa gim video Black Myth: Wukong dan film animasi Ne Zha adalah dua contoh yang menonjol.

Diluncurkan pada Agustus 2024, Black Myth: Wukong, yang terinspirasi oleh kisah Tiongkok kuno "Perjalanan ke Barat", langsung menjadi sensasi global, terjual lebih dari 10 juta kopi di semua platform dalam waktu tiga hari.

"Ne Zha 2" -- reinterpretasi modern dari pemberontak mitologis -- berhasil meraih pendapatan fantastis sebesar 15,4 miliar yuan (sekitar 37,9 triliun rupiah) di Tiongkok daratan saja pada tahun 2025, dan 2,2 miliar dolar AS (sekitar 37,4 triliun rupiah) secara global, menjadikannya film animasi terlaris di dunia.

"Jangkauan internasional dari produksi seperti Black Myth: Wukong dan Ne Zha menunjukkan bahwa budaya tradisional Tiongkok dapat berinteraksi dengan dunia secara kontemporer. Ketika para kreator menciptakannya kembali melalui permainan, animasi, dan platform digital, budaya tersebut menjadi mudah diakses, dinamis, dan terutama relevan bagi generasi muda. Format-format ini terbukti efektif, karena mengandalkan bahasa visual, penceritaan, dan emosi, dengan elemen universal yang memfasilitasi pemahaman budaya," ujar Lins.

Menurut akademisi Brasil tersebut, selain mengintegrasikan modernitas ke dalam budaya tradisional, pemberian kebijakan bebas visa kepada warga negara dari semakin banyak negara juga membantu meningkatkan pertukaran budaya.

Hingga saat ini, Tiongkok telah memberikan pembebasan visa sepihak kepada 50 negara dan membuat kesepakatan bebas visa timbal balik dengan 29 negara, kata seorang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok di platform media sosial pada hari Minggu (8/3).

"Ini melampaui sekadar mempromosikan pariwisata dan mewakili komitmen nyata terhadap keterbukaan dan dialog antar masyarakat. Dengan memfasilitasi pergerakan pelajar, pengusaha, dan pengunjung, Tiongkok mendorong interaksi langsung antar manusia yang membantu mengurangi stereotip dan kesalahpahaman. Keterlibatan yang lebih dekat ini memperkuat pertukaran budaya dan berkontribusi pada hubungan internasional yang lebih seimbang yang didasarkan pada pengalaman nyata dan saling menghormati," jelas Lins.