Inggris, Radio Bharata Online - Menurut CEO Climate Group, kerja sama yang lebih erat antara Tiongkok dan Amerika Serikat, dua penghasil emisi karbon dioksida terbesar di dunia, diharapkan dapat memainkan peran penting dalam mengamankan kesepakatan konsensus pada Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-28 (COP28).

Mata dunia sedang memperhatikan dengan seksama ketika lebih dari 70.000 delegasi dari seluruh dunia berkumpul di Dubai, Uni Emirat Arab, untuk konferensi COP28, yang dibuka pada hari Kamis (30/11) dan berlangsung hingga 12 Desember 2023.

Menyusul dirilisnya laporan Untied Nations pada awal bulan ini, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengatakan bahwa konferensi ini "harus menjadi tempat untuk segera menutup kesenjangan ambisi iklim".

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan China Global Television Network (CGTN) pada hari Selasa (28/11), Helen Clarkson, kepala organisasi iklim nirlaba terkemuka yang berkantor di London, Beijing, dan New York itu mengatakan bahwa penggunaan bahan bakar fosil yang terus berlanjut masih menjadi hambatan besar bagi kemajuan COP28, dan mendesak negara-negara untuk mengambil tindakan yang lebih besar terhadap transisi hijau.

"Masalah yang paling kritis sebenarnya adalah seputar bahan bakar fosil (adalah) kita harus benar-benar mempercepat penghentian penggunaan bahan bakar fosil. Akan ada banyak pembicaraan mengenai hal itu di COP ini. Jelas, ini adalah masalah besar. Kita perlu memiliki rencana yang sangat jelas tentang bagaimana dunia lepas dari bahan bakar fosil dan bagaimana kita mempercepat peluncuran energi terbarukan. Mereka akan membicarakan sebuah tujuan di COP ini, saya pikir akan ada hasil negosiasi untuk melipatgandakan energi terbarukan pada tahun 2030 (dan) menggandakan efisiensi energi. Itu bagus, namun ada banyak hambatan politik untuk melakukan hal tersebut. Jadi, yang perlu kita lihat adalah negara-negara yang benar-benar menerapkan rencana untuk mewujudkannya. Saya pikir hal lainnya adalah bahwa ada banyak subsidi yang masih diberikan untuk bahan bakar fosil. Ini bukanlah sebuah lapangan permainan yang setara untuk energi terbarukan. Semua orang seperti menaruh curiga ketika energi terbarukan disubsidi. Mereka harus bersaing di pasar. Tetapi bahan bakar fosil sangat disubsidi. Jadi kami ingin melihat adanya kesetaraan antara energi terbarukan dan bahan bakar fosil, dan kemudian Anda akan benar-benar melihat keseimbangannya," jelas Clarkson.

Clarkson juga menunjukkan peran penting yang dimainkan oleh Tiongkok dan Amerika Serikat dalam menghadapi masalah iklim, dan mengatakan bahwa ada rasa optimisme setelah pertemuan antara Utusan Khusus Tiongkok untuk Perubahan Iklim, Xie Zhenhua, dan Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat untuk Iklim, John Kerry, yang menghasilkan "Pernyataan Sunnylands tentang Peningkatan Kerjasama untuk Mengatasi Krisis Iklim" pada awal bulan ini.

Ia menyatakan bahwa tanda-tanda kerja sama yang lebih erat antara kedua belah pihak menghidupkan kembali harapan bahwa akan ada sebuah front persatuan dalam mengatasi krisis iklim.

"Saya pikir ini adalah berita yang sangat baik untuk melihat Tiongkok dan AS berbicara satu sama lain lagi tentang masalah ini. Sangatlah penting bahwa kesepakatan antara Tiongkok dan AS menghasilkan Perjanjian Paris pada tahun 2015. Bersama-sama, AS dan Tiongkok menyumbang 40 persen emisi. Jadi, jelas bahwa kita tidak akan berhasil dalam hal iklim kecuali AS dan Tiongkok bekerja sama dan benar-benar membuat komitmen tersebut. Jadi, saya pikir ini adalah berita yang sangat bagus. Sekali lagi, kita perlu mewujudkan komitmen tersebut menjadi tindakan nyata. Saya rasa kita telah melihat banyak hal dari Tiongkok. Tiongkok telah membangun lebih banyak lagi dalam rencana domestiknya. Kami telah melihat banyak investasi dalam beberapa tahun terakhir untuk kendaraan listrik. Hal ini sangat penting dan saya pikir banyak inovasi yang akan dilakukan oleh AS dan Tiongkok yang kita butuhkan. Jadi, saya rasa akan sangat positif melihat kedua negara, terlepas dari perbedaan pendapat yang ada, bekerja sama dalam hal iklim," paparnya.