JAKARTA, Radio Bharata Online - Delapan tahun lalu, dunia menyetujui target ambisius dalam Perjanjian Paris, yakni mempertahankan pemanasan hingga 1,5 derajat Celcius untuk membatasi tingkat perubahan iklim yang lebih berbahaya. Sejak saat itu, emisi gas rumah kaca terus meningkat, dan bencana iklim menjadi berita utama, mulai dari kebakaran hutan besar hingga banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada tahun 2023, pemanasan dunia akan mencapai 1,2 derajat Celcius dibandingkan tingkat pemanasan pada masa pra-industri. Gelombang panas dengan intensitas dan durasi yang semakin meningkat, kini melanda seluruh dunia. Saat ini dunia mempunyai waktu kurang dari 10 tahun sebelum pemanasan mencapai 1,5 derajat Celsius.
Minggu ini, perundingan iklim COP28 akan dimulai dengan latar belakang peringatan yang semakin keras dari para ilmuwan iklim dan para pemimpin dunia.
Sekjen PBB Antonio Guterres telah memperingatkan kita telah membuka pintu neraka. Sementara dalam surat iklim terbarunya, Paus Fransiskus mengutip para uskup dari Afrika, menjuluki krisis iklim sebagai “contoh dosa struktural yang tragis dan mencolok”.
Di Uni Emirat Arab, 198 negara dalam kerangka iklim PBB akan berkumpul untuk COP28. Tahun ini, isu penting yang akan dibahas adalah inventarisasi global, yang merupakan mekanisme utama yang dirancang untuk meningkatkan ambisi iklim, berdasarkan Perjanjian Paris tahun 2015. Ini adalah pertama kalinya target pengurangan emisi, dan dimulainya penilaian rencana diversifikasi ekonomi setiap negara.
Skenario terburuk pemanasan global yang tidak terkendali sebesar 4 derajat Celcius atau lebih pada tahun 2100 tampaknya tidak mungkin terjadi. Namun suhu dunia yang mencapai 2 derajat Celcius saja, sudah cukup untuk membawa dampak buruk yang tidak dapat diterima, dan kerusakan yang tidak dapat dibayangkan. Sebut saja dampak banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya di Pakistan atau Libya, misalnya. (CNA)