Jakarta, Bharata Online - Kedekatan antara Indonesia dan Tiongkok kini tidak lagi sebatas diplomasi antarpemerintah pusat, melainkan semakin meluas melalui sinergi antarwilayah dan pertukaran antarmasyarakat. Provinsi Guangdong mengambil peran krusial dalam mempererat koneksi ini, menggabungkan potensi ekonomi, kemajuan teknologi, dan diplomasi budaya.

Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam acara "Discover the Asia-Pacific · Discover Quality Products from China 'Guangdong Products Go Global' in Indonesia" yang diselenggarakan oleh Southern Media Group (Nanfang Daily) pada Selasa (22/9) di Lotte Mall Jakarta. Perhelatan ini turut memamerkan berbagai produk kebudayaan serta inovasi teknologi dari Shenzhen, kawasan yang menjadi etalase utama keberhasilan reformasi dan kemajuan teknologi mutakhir Tiongkok.

Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia, Wang Siping, menjelaskan bahwa hubungan kedua negara terus memperlihatkan tren positif berkat interaksi masyarakat dan daerah yang semakin intensif.

"Guangdong bukan hanya salah satu provinsi dengan kerja sama ekonomi dan investasi paling aktif dengan Indonesia, tetapi juga memiliki pertukaran budaya yang semakin dinamis," ujar Wang Siping saat memberikan sambutan.

Kedinamisan ini salah satunya dibuktikan lewat ranah sinema melalui kesuksesan pemutaran film produksi Guangdong, "A Letter to Grandma", yang mendapatkan apresiasi hangat dari publik Indonesia pada bulan Agustus 2026 lalu. Dari sisi kemitraan wilayah, Guangzhou juga gencar membangun aliansi kota persahabatan. Saat ini, Malang dan Semarang telah berpartisipasi dan mencatat sejarah sebagai satu-satunya perwakilan kota dari luar negeri yang tergabung di dalam aliansi tersebut.

Terkait pameran yang diselenggarakan di Jakarta, Wang Siping menggarisbawahi dampak positifnya terhadap relasi kedua pihak. Lebih jauh, ajang ekshibisi ini membuka ruang bagi masyarakat lokal untuk mengeksplorasi Guangdong secara lebih mendalam melalui pameran fotografi, produk kreatif, pertunjukan budaya, hingga dialog peradaban.

"Kegiatan ini semakin memperkuat ikatan budaya antara Guangdong dan Indonesia melalui kerja sama lintas batas," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), Al Busyra Basnur, merefleksikan dimensi historis dari kemitraan ini. Menurutnya, hubungan kedua bangsa sesungguhnya telah berakar jauh sebelum dimulainya hubungan diplomatik resmi pada 13 April 1950. Kolaborasi itu dipandang sangat esensial bagi kemajuan kawasan Asia-Pasifik, terutama dalam spektrum ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

Al Busyra juga menyoroti bahwa lompatan dalam hubungan bilateral ini sangat bergantung pada peran aktif kolaborasi di tingkat subnasional. Organisasi yang dipimpinnya, bersama sejumlah mitra di Guangdong, secara konsisten memfasilitasi berbagai program kemitraan. Salah satu rekam jejaknya adalah pelaksanaan Forum Bisnis Indonesia-Guangdong yang sukses diselenggarakan bertepatan dengan Trade Expo Indonesia di BSD pada 18 Oktober 2025 lalu.

Menegaskan pentingnya kolaborasi antardaerah tersebut, Al Busyra menyatakan, "Kerja sama yang kuat dan berkembang pesat antara Indonesia dan Tiongkok tidak hanya ditentukan oleh hubungan baik antara Jakarta dan Beijing, tetapi juga, dalam tingkat yang signifikan, oleh kerja sama antarwilayah, provinsi, dan kota."