BEIJING, Radio Bharata Online - Para ahli Tiongkok dalam sebuah forum khusus di Beijing, menyebutkan bahwa akar penyebab ketidakstabilan di Laut Tiongkok Selatan adalah Amerika Serikat.  

Para ahli dari berbagai pusat penelitian dan universitas, membahas masalah tersebut pada sebuah acara pada hari Selasa, yang diselenggarakan oleh South China Sea Strategic Situation Probing Initiative (SCSPI).

Menanggapi klaim beberapa negara Barat, bahwa pembangunan Tiongkok di beberapa pulau dan terumbu karang di Nansha Qundao telah mengubah "status quo" di wilayah tersebut, ketua Pusat Penelitian Huayang untuk Kerja Sama Maritim dan Tata Kelola Kelautan, Wu Shicun, menjelaskan, bahwa langkah-langkah terkait yang diambil Tiongkok, adalah untuk melawan klaim arbitrase Filipina, dan memperbaiki posisi Tiongkok yang tidak menguntungkan di pulau-pulau dan terumbu karang yang relevan, di bawah yurisdiksinya. Menurut Wu, langkah-langkah tersebut sah, dan masuk akal.

Sementara direktur Pusat Studi Strategi Maritim Universitas Peking, Hu Bo, mengatakan, bahwa klaim Tiongkok atas kedaulatan dan hak maritim di kawasan ini, tetap konsisten dan berkelanjutan.

Hu mengatakan, sumber utama ketidakstabilan dan turbulensi saat ini di Laut Tiongkok Selatan, dapat dikaitkan dengan dua faktor. Pertama, beberapa negara penggugat, seperti Filipina, telah berupaya mengubah status quo dan bahkan merusak komitmen yang dibuat oleh semua pihak, dalam "Deklarasi tentang Perilaku Para Pihak di Laut Tiongkok Selatan" untuk tidak menduduki pulau atau terumbu karang tak berpenghuni baru.  Kedua, keterlibatan Amerika Serikat dalam sengketa Laut Tiongkok Selatan, dan tindakan pencegahan militernya yang semakin intensif.

Hu menunjukkan fakta, bahwa situasi di Laut Tiongkok Selatan, secara umum lebih stabil selama periode dari berakhirnya Perang Dingin hingga 2009, ketika Amerika Serikat kurang memperhatikan wilayah tersebut dan kawasan Asia Tenggara.  (China Daily)