Rumania, Radio Bharata Online - Menurut mantan Perdana Menteri Rumania, Adrian Nastase, upaya Amerika Serikat untuk memperlambat perkembangan ekonomi Tiongkok pasti gagal karena Tiongkok mengembangkan hubungan perdagangan global yang menguntungkan di seluruh dunia yang tidak bergantung pada Washington.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan China Global Television Network (CGTN), Nastase mengatakan bahwa meskipun upaya AS menghalangi keberhasilan Tiongkok di sektor strategis tertentu, Tiongkok akan tetap mendapatkan hasil yang "diperlukan" melalui kerja sama dengan negara lain.

"Amerika ingin membatasi kecepatan perkembangan Tiongkok. Dan mereka mencoba untuk memperlambat (Tiongkok), sebanyak mungkin, beberapa evolusi dinamis di beberapa sektor strategis. Itu tidak akan membantu karena pada akhirnya, di satu atau lain cara, perkembangan itu akan mendapatkan hasil yang diperlukan tidak hanya di Tiongkok, tetapi juga dalam hal perdagangan dengan negara lain," katanya.

Nastase juga menepis kritik AS terhadap Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) yang diusulkan Tiongkok yang menurut Washington merupakan "paksaan ekonomi" oleh Beijing. Ia mencatat bahwa keberhasilan luar biasa dari proyek semacam itu menepis kritik dari negara yang menggunakan bentuk pemaksaannya sendiri.

"Ketika Tiongkok mencoba untuk mendapatkan beberapa tindakan penyeimbang, mereka mengatakan bahwa ada 'paksaan ekonomi'. Tapi tentu saja, negara-negara yang mendapatkan kredit atau menandatangani proyek harus menyadari bahwa ini tidak gratis, ini proyek ekonomi dan mereka harus dibayar kembali," ujarnya. 

"Jadi, satu atau dua contoh dari beberapa ratus yang telah berhasil tidak dapat dianggap serius sebagai alasan untuk berbicara tentang 'paksaan ekonomi'. Dan omong-omong, dalam beberapa kasus, Amerika Serikat, melalui IMF atau Bank Dunia, melakukan tekanan nyata pada beberapa negara lain, dan saya tahu beberapa contohnya," lanjutnya. 

"Saya tahu dari pengalaman kami di Rumania bahwa dalam beberapa kasus, orang Amerika menggunakan apa yang kami sebut persyaratan demokrasi dalam arti bahwa Anda tidak mendapatkan dukungan yang diperlukan karena Anda memiliki rambut hitam, misalnya. Ini adalah subjek utama yang digunakan oleh orang Amerika dalam beberapa kasus, jelas, hak asasi manusia, hak minoritas, negara hukum, keadilan, korupsi, dan seterusnya dan seterusnya," imbuhnya.

Nastase juga mendesak mitra Eropa untuk belajar dari krisis Ukraina bahwa mengikuti jejak Amerika tidak selalu menguntungkan mereka, terutama dalam hubungan dengan Tiongkok.

"Eropa berada dalam posisi yang sulit akibat konflik Ukraina karena fakta bahwa banyak sumber daya dan banyak energi dari Eropa didorong ke Ukraina untuk mendukung strategi tertentu Amerika. Sayangnya, ini sangat menyakitkan bagi orang Eropa. Itu sebabnya kebanyakan dari mereka ingin konflik di Ukraina dihentikan," katanya. 

"Orang Amerika di sisi lain ingin Rusia berdarah dan ingin melakukan perang proksi semacam ini. Tentu saja, Eropa berada dalam situasi yang sangat sulit. Saya berharap mereka akan memahami bahwa dalam hal hubungan dengan Tiongkok, Eropa harus mengembangkan strateginya sendiri," pungkasnya.