BEIJING, Radio Bharata Online - Kapal penangkap ikan Lupeng Yuanyu 028, yang dimiliki oleh Penglai Jinglu Fishery yang berbasis di Shandong, terbalik di Samudra Hindia tengah, sekitar 5.000 kilometer sebelah barat Perth, Australia, pada hari Selasa (16/5). Diperkirakan 39 awak kapal hilang, termasuk 17 orang Tiongkok, 17 orang Indonesia, dan lima orang Filipina.
Kementerian transportasi Tiongkok pada hari Minggu mengkonfirmasi, sisa-sisa jenazah korban kapal penangkap ikan Tiongkok yang karam di Samudera Hindia itu, berhasil diselamatkan oleh tim penyelamat Sri Lanka pada Sabtu malam (20/5), dan sudah diserahkan ke pihak berwenang Tiongkok.
Kapal angkatan laut Sri Lanka yang menyelamatkan jasad para korban, tiba di wilayah Samudera Hindia pada hari Sabtu. Para penyelam dari kapal tersebut mendekati kapal penangkap ikan yang tenggelam dan menemukan sebuah mayat dari kabin kapten kapal, sekitar pukul 19:00 Sabtu malam.
Tim penyelamat Sri Lanka kembali mendekati kapal tersebut pada hari Minggu pagi dan melakukan eksplorasi bawah air, bahu membahu dengan kapal penyelamat Tiongkok di bawah koordinasi Pusat Pencarian dan Penyelamatan Maritim Tiongkok. Tim penyelamat menaiki kapal yang terbalik dan mengetuknya di beberapa tempat, namun tidak ada respon.
Saat ini, 14 kapal penyelamat, termasuk kapal angkatan laut Sri Lanka, berada di lokasi kejadian untuk menyelamatkan personel yang hilang di kapal, dan lebih banyak lagi kapal penangkap ikan yang datang untuk upaya penyelamatan.
Selain itu, 12 tim penyelamat darurat dari Biro Penyelamat Shanghai telah berlayar dari pelabuhan Hambantota di Sri Lanka, dan diperkirakan akan tiba di lokasi kejadian pada Selasa malam (23 Mei).
Sampai saat ini, sebagian kecil dari bagian bawah kapal yang karam masih berada di atas air, dan kondisi lambung kapal tidak banyak berubah, dan kapal tersebut hanyut perlahan ke arah tenggara. Berdasarkan perkiraan kasar, jalur hanyutnya kapal tersebut telah melebihi 100 mil laut.
Presiden Tiongkok Xi Jinping telah menuntut upaya habis-habisan dalam penyelamatan kru yang hilang setelah insiden tersebut, dan langsung memberikan instruksi setelah insiden yang terjadi pada Selasa pekan lalu sekitar pukul 3 pagi, mendesak departemen terkait untuk segera mengaktifkan mekanisme tanggap darurat, untuk memastikan keselamatan nyawa dan harta benda masyarakat.
Sementara Kementerian Transportasi akan terus melakukan yang terbaik dalam pekerjaan pencarian dan penyelamatan lanjutan, merumuskan rencana pencarian dan penyelamatan secara ilmiah, mengatur operasi pencarian dan penyelamatan sesuai dengan hukum dan peraturan, dan melakukan yang terbaik untuk mencari dan menyelamatkan orang yang hilang. (Global Times)