BEIJING, Radio Bharata Online - Duta Besar Tiongkok untuk Jepang Wu Jianghao dalam sebuah pidato baru-baru ini, menyuarakan keprihatinannya atas pembatasan ekspor chip ke Tiongkok.

Dia memperingatkan bahwa jika Jepang bersikeras pada pembatasan ekspor peralatan pembuatan chip, Jepang tidak hanya akan kehilangan pasar Tiongkok yang besar, tetapi juga masa depan industri semikonduktor Jepang. Karena semikonduktor adalah produk ekspor terbesar kedua Jepang setelah mobil, dan ekspor terbesarnya ke Tiongkok.

Wu mengingatkan bahwa tujuan AS adalah untuk membangun hegemoninya di industri semikonduktor. Maka jika Jepang mengikuti cara AS, hanya akan ada satu hasil, yaitu kekalahan untuk Tiongkok dan Jepang, sekaligus kemenangan bagi AS.

Wu membuat pernyataan tersebut saat menghadiri pertemuan Asosiasi Jepang untuk Promosi Perdagangan Internasional (JAPIT). Organisasi ini didirikan pada tahun 1954, dan berkomitmen untuk mempromosikan perdagangan dan investasi antara Tiongkok dan Jepang.  JAPIT kini memiliki lebih dari 500 anggota perusahaan.

Pemerintah Jepang meluncurkan rincian daftar terbaru dari ekspor yang diatur bulan lalu, yang mengharuskan perusahaan lokal untuk mendapatkan lisensi, sebelum menjual 23 jenis peralatan pembuatan chip ke Tiongkok. Pembatasan ini akan mulai berlaku pada tanggal 23 Juli 2023.

Wu mengatakan, bahwa selama pembicaraannya dengan para pebisnis Jepang, ia memperhatikan bahwa mereka bersedia untuk bekerja sama dengan Tiongkok di bidang energi baru, perlindungan lingkungan, perawatan lansia, dan lainnya. Tetapi ketika menyangkut kerja sama teknologi, ia dapat merasakan bahwa Jepang mengelak.

Wu menegaskan, bahwa kerja sama Tiongkok-Jepang tidak boleh diputuskan oleh negara lain.  Dan kerja sama ekonomi dan perdagangan harus bersifat adil, terbuka, komprehensif dan seimbang, sehingga kerja sama pilih-pilih ala Jepang, tidak disarankan. (CGTN)