Beijing, Radio Bharata Online - Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Tiongkok telah menjalin kemitraan berdasarkan kepentingan bersama dan kerja sama yang saling menguntungkan untuk kesejahteraan rakyat, kata Menteri Luar Negeri DRC, Christophe Lutundula.
Lutundula, yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri negara tersebut, melakukan kunjungan ke Tiongkok dari hari Minggu (21/5) hingga Rabu (24/5) atas undangan Dewan Negara dan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Qin Gang.
"Agar kemitraan menjadi keteladanan, maka harus dilandasi kepentingan bersama terlebih dahulu. Kemudian, sharing seperti yang kita katakan saat ini: win-win, win-win. Kerjasama itu juga menyangkut bidang kepentingan masing-masing pihak,” ujar Lutundula dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network sebelum kunjungan kenegaraan Presiden DRC, Felix Tshisekedi, ke Tiongkok.
Dia mencatat bahwa investasi dari Tiongkok telah membuahkan hasil yang bermanfaat dan manfaat praktis bagi rakyat negara Afrika Tengah itu.
"Investasi yang dimulai dengan eksplorasi, eksploitasi, produksi bahkan pemasaran, yaitu memberi nilai tambah pada sumber daya alam kita sehingga menjadi aset ekonomi yang nyata, sehingga menjadi pembangkit sumber daya likuid yang nyata yang memungkinkan kita menciptakan lapangan kerja, untuk memecahkan masalah kesehatan, masalah pendidikan dan untuk menyediakan, singkatnya, kesejahteraan penduduk," jelasnya.
Lutundula mengatakan kemitraan seperti itu dengan Tiongkok tidak eksklusif, dan negaranya menyambut baik investasi dari seluruh dunia.
"Apa lagi yang kita butuhkan? Bersama-sama, kita harus melawan anti-nilai, misalnya korupsi. Agar kerja sama berhasil, kita harus menjaga dari campur tangan eksternal, dan saya suka istilah yang penting dalam kemitraan kita, kerja sama kita adalah kerja sama, kerja sama kita tidak eksklusif, artinya tidak menghalangi pihak lain untuk bekerja sama dengan negara lain," tambahnya.
Tahun ini menandai peringatan 51 tahun normalisasi hubungan diplomatik bilateral antara kedua negara. Tshisekedi memulai kunjungan kenegaraan enam hari ke Tiongkok pada hari Rabu (24/5) atas undangan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.