Beijing, Radio Bharata Online - Tiongkok dan Uni Eropa (UE), sebagai bagian penting dari dunia multi-kutub, harus meningkatkan kerja sama meskipun ada banyak tantangan, menurut seorang peneliti pada sebuah program berita di China Global Television Network (CGTN).
Berbicara pada program yang disiarkan pada hari Senin (11/9) itu, Li Yong, Kepala Peneliti dari sebuah lembaga think tank yang berbasis di Beijing, D and C Think, memberikan pandangannya mengenai hasil-hasil pertemuan antara Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, dan para pemimpin Eropa di KTT G20.
Selama KTT yang berlangsung dari hari Sabtu (9/9) hingga Minggu (10/9) di New Delhi, India, Perdana Menteri Tiongkok bertemu dengan beberapa pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak, dan Presiden Komisi Eropa, Ursula Von Der Leyen, dan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel.
Bagi Li, Tiongkok dan Uni Eropa harus bekerja sama untuk kebaikan bersama dunia, dan hubungan bilateral, meskipun mengalami penurunan baru-baru ini, akan ditingkatkan dengan serangkaian pertemuan antara para pemimpin kedua belah pihak.
"Baik Tiongkok dan Uni Eropa adalah bagian penting dari dunia multi-kutub, dan kedua belah pihak harus benar-benar bekerja sama untuk kebaikan bersama dunia, termasuk mengatasi tantangan yang dihadapi dunia," kata Li.
"Tapi, tentu saja hubungan bilateral ini memiliki beberapa masalah, seperti lingkungan politik di Uni Eropa yang tampaknya belum membaik. Dan masih ada, menurut saya, kemerosotan dalam rasa saling percaya, tetapi saya percaya setelah pertemuan serius antara para pemimpin Tiongkok dan para pemimpin Uni Eropa, saya pikir dalam proses untuk mendapatkan kembali kepercayaan, tidak akan terlalu jauh," lanjut Li.
Li juga menggarisbawahi tantangan-tantangan yang dihadapi Eropa.
"Tapi tentu saja, dalam hal tantangan masa depan, kita harus melihat bahwa Eropa, atau Uni Eropa secara khusus, menghadapi tantangan-tantangan spesifik mereka sendiri, seperti perlambatan ekonomi, potensi masalah dengan pasokan energi saat musim dingin semakin dekat, dan konflik Rusia-Ukraina, yang menurut saya, akan menjadi hambatan bagi perkembangan ekonomi mereka, dalam hal sumber daya keuangan," jelas Li.