JAKARTA, Bharata Online — Karakter boneka ikonik Labubu dipastikan akan melangkah ke layar lebar setelah Pop Mart bekerja sama dengan Sony Pictures untuk menggarap film adaptasinya.
Dalam pernyataan resminya, kedua perusahaan mengungkapkan bahwa proyek ini masih berada pada tahap pengembangan awal dan akan mengusung format perpaduan live-action dengan animasi berbasis komputer.
Namun, hingga kini, jadwal penayangan film tersebut belum diumumkan. Proyek ini akan disutradarai oleh Paul King, sineas di balik film Paddington dan Wonka. Dia juga akan terlibat sebagai produser sekaligus mengembangkan naskah bersama Steven Levenson, yang dikenal lewat karya Dear Evan Hansen dan film Tick, Tick... Boom!.
Labubu sendiri merupakan karakter paling populer dari lini produk Pop Mart. Popularitasnya yang meroket dalam beberapa tahun terakhir turut mendorong valuasi perusahaan hingga mendekati US$40 miliar, bahkan melampaui sejumlah pemain lama industri mainan seperti Mattel, produsen Barbie.
Fenomena Labubu tidak lepas dari konsep penjualannya yang unik melalui “blind box”, di mana pembeli tidak mengetahui varian karakter yang didapat hingga kemasan dibuka. Strategi ini berhasil menciptakan sensasi koleksi sekaligus meningkatkan daya tarik di kalangan konsumen muda.
Demam Labubu juga meluas ke ranah gaya hidup. Sejumlah figur publik seperti Rihanna dan Lisa pernah terlihat mengenakan aksesori Labubu yang dipadukan dengan tas desainer mereka, memperkuat posisinya sebagai simbol pop culture global.
Karakter Labubu diciptakan oleh seniman Hong Kong, Kasing Lung, lebih dari satu dekade lalu. Sosoknya digambarkan sebagai peri hutan yang terinspirasi dari mitologi Nordik dan merupakan bagian dari seri buku “The Monsters” yang memuat berbagai karakter fantasi.
Pengumuman produksi film ini dilakukan di Paris dalam rangkaian tur pameran global perayaan 10 tahun Labubu. Kasing Lung akan berperan sebagai produser eksekutif dalam proyek tersebut. Langkah Pop Mart merambah industri film dinilai sebagai strategi ekspansi yang wajar seiring meningkatnya popularitas Labubu.
Transformasi ini berpotensi membawa perusahaan dari sekadar produsen mainan menjadi brand hiburan terintegrasi.
Sejumlah analis menilai, keterikatan emosional konsumen, khususnya Generasi Z dan milenial, terhadap karakter dan cerita menjadi kunci. Integrasi antara konten dan produk dinilai mampu menciptakan ekosistem konsumsi yang lebih kuat. Selain itu, proyek ini juga dinilai hadir di momentum yang tepat, seiring meningkatnya perhatian global terhadap industri kreatif Tiongkok, termasuk kesuksesan film animasi dan gim yang belakangan mencuri perhatian pasar internasional.[Bisnis.com]