JAKARTA, RAdio Bharata Online - Sekutu Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Medvedev mengingatkan bahwa negara-negara Barat secara serius meremehkan risiko perang nuklir atas Ukraina. Mantan presiden Rusia tersebut mengingatkan bahwa Rusia akan melancarkan serangan pendahuluan jika Ukraina mendapatkan senjata nuklir.
Dilansir kantor berita Reuters, Jumat (26/5/2023), invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022 telah memicu konflik Eropa paling mematikan sejak Perang Dunia Kedua, dan konfrontasi terbesar antara Moskow dan Barat sejak Krisis Rudal Kuba 1962.
Rusia, yang memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara lain, telah berulang kali mengatakan bahwa Barat terlibat dalam perang proksi dengan Rusia atas Ukraina, yang dapat meningkat menjadi konflik yang jauh lebih besar.
Medvedev yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia mengatakan, "Ada hukum perang yang tidak dapat diubah. Jika menyangkut senjata nuklir, harus ada serangan pendahuluan," kata , seperti dikutip oleh kantor berita Rusia.
Medvedev menuturkan, mengizinkan senjata nuklir Ukraina, adalah sebuah langkah yang tidak pernah diusulkan oleh negara Barat secara terbuka, namun jika itu terjadi artinya akan ada "sebuah rudal dengan muatan nuklir yang akan mendatangi mereka,"
Medvedev menambahkan, "Eropa tidak sepenuhnya menyadari hal ini dan percaya bahwa ini tidak akan terjadi, namun hal itu tu akan terjadi dalam kondisi tertentu,"
Detikcom