BEIJING, Radio Bharata Online - Penduduk pulau di seluruh Samudra Pasifik, menyaksikan rumah dan cara hidup mereka perlahan-lahan menghilang, seiring dengan naiknya permukaan air laut, yang mengubah air yang dulunya bersih menjadi air asin.
Faktor-faktor ini, yang disebabkan oleh perubahan iklim, berdampak pada ketahanan air dan pangan, serta keanekaragaman hayati dan budaya yang rapuh di kawasan ini.
Negara-negara kepulauan Pasifik bukanlah pusat kekuatan industri, tetapi mereka mengalami dampak penuh dari perubahan iklim secara default, seperti yang diuraikan baru-baru ini dalam Laporan Kemajuan SDG Asia-Pasifik 2023, dari Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik, atau ESCAP.
Badan yang berbasis di Bangkok ini mengatakan, bahwa dengan laju yang ada saat ini, kawasan Asia-Pasifik akan kehilangan semua, atau sebagian besar target iklim yang digariskan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).
Indeks Risiko Dunia yang diterbitkan oleh Ruhr University Bochum di Jerman mengatakan, bahwa dari semua wilayah di dunia, Pasifik memiliki risiko tertinggi dari perubahan iklim, karena paparan yang tinggi terhadap peristiwa alam yang ekstrem. Risiko ini bukan hanya masalah paparan terhadap perubahan iklim, tetapi juga kurangnya adaptasi terhadap perubahan tersebut.
Sangmin Nam, direktur Divisi Lingkungan dan Pembangunan ESCAP, mengatakan bahwa emisi gas rumah kaca di kawasan Asia Pasifik, meningkat sebesar 25 persen dari tahun 2010 hingga 2019, atau lebih dari 100 persen dari tingkat emisi pada tahun 1990. Tren ini menyebabkan Asia-Pasifik menyumbang lebih dari setengah emisi global, dan terus memperbesar porsi global. Adapun sumber utama emisi Gas Rumah Kaca di kawasan ini adalah listrik dan pemanas, manufaktur dan konstruksi, dan tentu saja transportasi.
Ia menjelaskan, bahwa listrik dan pemanas menyumbang sebagian besar emisi energi di Asia-Pasifik, dan 38 persen dari total emisi dari listrik dan pemanas di seluruh dunia.
Sementara Emisi karbon dioksida dari transportasi di kawasan ini, telah meningkat lebih dari 200 persen selama tiga dekade terakhir.
Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim mengatakan, bahwa masyarakat yang rentan, seperti masyarakat di Pasifik, yang secara historis paling sedikit memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim saat ini, terkena dampaknya secara tidak proporsional.
Wesley Morgan, seorang peneliti senior untuk Dewan Iklim, sebuah organisasi penelitian iklim yang berbasis di Australia, mengatakan, negara-negara kepulauan Pasifik telah menyadari, bahwa perubahan iklim adalah ancaman keamanan terbesar bagi mereka. (China Daily)