BEIJING, Bharata Online – Tiongkok telah memperkenalkan peraturan baru pada hari Jumat, untuk mengatur sektor interaksi antara AI dan manusia yang berkembang pesat. Aturan baru ini secara eksplisit melarang penyedia layanan, untuk menawarkan pendamping virtual atau pasangan romantic, kepada anak di bawah umur. Kebijakan baru tersebut akan mulai berlaku pada 15 Juli 2026.
Menurut seorang pejabat dari Administrasi Ruang Siber Tiongkok (CAC), peraturan tersebut bertujuan untuk mendorong perkembangan layanan AI yang menyerupai manusia secara sehat, sambil melindungi keamanan nasional dan kepentingan publik.
Meskipun mengakui manfaat AI di bidang seperti pendidikan dan perawatan lansia, pejabat tersebut juga menyoroti kekhawatiran yang meningkat, mengenai kesejahteraan mental anak di bawah umur, keamanan data, dan bias (penyimpangan).
Pilar utama dari peraturan baru ini adalah perlindungan ketat terhadap pengguna yang lebih muda. Langkah-langkah baru tersebut menyatakan bahwa penyedia layanan AI, dilarang menawarkan layanan "keintiman virtual" – seperti kerabat virtual atau pasangan romantis – kepada siapa pun yang berusia di bawah 18 tahun.
Selain itu, untuk anak-anak di bawah usia 14 tahun, perusahaan harus mendapatkan persetujuan eksplisit dari orang tua atau wali, sebelum menyediakan bentuk interaksi AI yang menyerupai manusia. Kebijakan ini juga mendorong inovasi di sektor-sektor seperti pendampingan lansia dan pengembangan budaya.
Namun, kebijakan ini juga memperjelas, bahwa teknologi tersebut tidak boleh digunakan untuk menghasilkan konten yang merusak keamanan nasional atau stabilitas sosial.
Sementara di luar pembatasan pengguna, peraturan tersebut mengharuskan penyedia untuk memenuhi kewajiban keselamatan tertentu. Ini termasuk menjalani penilaian keamanan, mengajukan algoritma kepada pemerintah, dan berpartisipasi dalam platform keamanan sandbox AI, untuk menguji teknologi di lingkungan yang terkendali.
CAC menekankan bahwa tata kelola AI membutuhkan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, untuk memastikan bahwa AI tetap menjadi kekuatan positif dalam masyarakat. (Sumber: CGTN)