Bharata Online - Jika berbicara soal sepak bola, banyak orang akan langsung mengakui bahwa Tiongkok belum termasuk kekuatan utama dunia. Prestasi tim nasional pria Tiongkok masih jauh dibandingkan negara-negara elite seperti Argentina, Prancis, Brasil, atau bahkan sesama negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan.

Namun menariknya, ketika berbicara mengenai pengaruh dalam industri sepak bola global, khususnya terhadap Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA, posisi Tiongkok ternyata jauh lebih kuat daripada yang dibayangkan banyak orang.

Kasus terbaru yang menjadi sorotan dunia adalah negosiasi hak siar Piala Dunia 2026. Berbagai laporan menyebutkan, FIFA awalnya menginginkan nilai hak siar di Tiongkok berkisar antara $250 juta hingga $300 juta atau sekitar Rp5 triliun.

Namun setelah negosiasi panjang, kesepakatan akhirnya tercapai dengan nilai yang dilaporkan hanya sekitar $60 juta atau sekitar Rp1 triliun. Dengan kata lain, FIFA menerima pemotongan harga yang sangat besar hingga 80 persen demi memastikan Piala Dunia tetap dapat ditayangkan di Tiongkok.

Kesepakatan ini dikemas untuk hak siar multi-turnamen hingga tahun 2031, mencakup Piala Dunia Pria 2026 dan 2030, serta Piala Dunia Wanita 2027 dan 2031. Apakah FIFA rugi? Tidak, justru ini adalah kesepakatan jangka panjang yang sangat menguntungkan bagi stabilitas masa depan FIFA dan demi kepastian pasar jangka Panjang.

Pertanyaannya, mengapa FIFA yang selama ini terkenal sangat kuat dalam urusan bisnis akhirnya bersedia menerima harga yang jauh lebih rendah? Jawabannya bukan karena Tiongkok hebat dalam bermain sepak bola, melainkan karena Tiongkok hebat dalam menciptakan nilai ekonomi, pasar, teknologi, dan ekosistem bisnis yang tidak bisa diabaikan FIFA.

Alasan utamanya sih dikabarkan ada jeda waktu 12 jam antara Amerika Utara dan Tiongkok, sehingga sebagian besar pertandingan disiarkan pada dini hari waktu Tiongkok, yang menurunkan potensi pendapatan iklan. Itulah yang akhirnya buat FIFA mengalah dan menurunkan harganya.

Tiongkok juga sebenarnya menyadari bahwa FIFA tidak bisa memboikot pasar dengan 1,4 miliar penduduk, karena FIFA juga membutuhkan Tiongkok demi menjaga angka rekor penonton global mereka tetap besar dan masif.

Selain alasan utama tadi, sebenarnya FIFA juga punya alasan lain yang membuat mereka tidak bisa menolak tawaran Tiongkok yaitu populasinya yang lebih dari 1,4 miliar jiwa, dan itu berarti jumlah penonton yang sangat besar. Belum lagi, jumlah penggemar sepak bola di negara tersebut yang juga besar hingga mencapai ratusan juta.

Bahkan FIFA sendiri mengakui bahwa pasar Tiongkok memiliki arti strategis bagi komunitas sepak bola global. FIFA juga secara terbuka menyebut kerja sama dengan China Media Group atau CMG sebagai langkah penting untuk menjangkau penggemar dan generasi muda di Tiongkok.

Dalam dunia bisnis olahraga modern, yang dicari FIFA bukan hanya kualitas tim nasional suatu negara, melainkan jumlah penonton, pendapatan iklan, sponsor, serta jangkauan digital. Dari sisi ini, Tiongkok merupakan raksasa yang sulit digantikan.

FIFA sebenarnya menghadapi dilema besar. Jika mereka tetap bersikeras mempertahankan harga tinggi, ada risiko pemadaman siaran yang akan membuat jutaan bahkan ratusan juta penonton Tiongkok tidak dapat mengakses siaran resmi Piala Dunia.

Hal itu sudah pasti akan merugikan sponsor global yang sudah mengeluarkan miliaran dolar untuk tampil di ajang tersebut. Reuters bahkan melaporkan bahwa Tiongkok dan India menjadi dua pasar yang sangat penting bagi FIFA karena menyangkut hampir tiga miliar penduduk dunia.

Tiongkok sendiri saja diketahui telah menyumbang hampir 50 persen total jam tayang global di seluruh platform digital dan media sosial pada Piala Dunia 2022 lalu. Selain itu, Tiongkok juga memiliki keunggulan lain yang buat daya tawar mereka sangat besar di mata FIFA.

Banyak sponsor utama FIFA berasal dari atau memiliki kepentingan besar di pasar Tiongkok. Untuk Piala Dunia 2026, terdapat perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti Hisense, Vivo, Mengniu, dan Lenovo yang menjadi bagian penting dalam ekosistem komersial FIFA.

Mereka secara konsisten menjadi sponsor utama turnamen FIFA sehingga menjadikan Tiongkok salah satu penyumbang dana terbesar di FIFA. Pada siklus Piala Dunia sebelumnya, korporasi asal Tiongkok mengucurkan dana lebih dari $1,4 miliar atau sekitar Rp25 triliun untuk menjadi sponsor.

Makanya, pada saat FIFA berambisi mencapai target pendapatan hingga miliaran dolar, justru uang yang mengalir dari korporasi Tiongkok lah yang jauh lebih pasti dan besar nilainya dibandingkan pendapatan dari hak siar domestik negara tersebut.

Selain itu, fakta lapangan terbaru menjelang dibukanya Piala Dunia 2026 di Amerika Utara membuktikan bahwa Tiongkok tidak lagi sekadar menjadi "penonton kaya". Negara ini telah bertransformasi menjadi tulang punggung infrastruktur teknologi, rantai pasok, dan ekosistem digital utama turnamen.

Pertama, menjadi otak teknologi di balik ruang asisten wasit video atau VAR FIFA. Jika dahulu perusahaan Tiongkok hanya membeli papan iklan di pinggir lapangan, kini mereka menguasai infrastruktur inti pertandingan bahkan teknologi mutakhir dalam olahraga sepakbola.

Raksasa teknologi Hisense misalnya, telah secara resmi menjadi penyedia tunggal layar monitor RGB Mini LED untuk seluruh pusat teknologi VAR di 16 stadion penyelenggara Piala Dunia 2026. Keputusan krusial wasit di turnamen ini sepenuhnya bergantung pada akurasi visual teknologi Tiongkok.

Kedua, implementasi kecerdasan buatan atau AI "Digital Twin" untuk seluruh stadion. Tiongkok memamerkan keunggulan komparatifnya di bidang AI langsung di arena pertandingan. Lenovo misalnya, yang baru saja masuk sebagai Official Technology Partner utama FIFA, menerjunkan lebih dari 10.000 perangkat komputasi dan 200 teknisi ahli ke lapangan.

Mereka mengimplementasikan teknologi "Digital Twin" berbasis AI, yang mampu mereplikasi pergerakan pemain dan situasi taktis di lapangan secara virtual 3D secara real-time untuk kebutuhan analisis dan siaran global.

Ketiga, kontrol total rantai pasok merchandise global. Meskipun timnasnya absen, geliat ekonomi Piala Dunia 2026 di seluruh dunia digerakkan oleh industri manufaktur Tiongkok. Otoritas bea cukai di pusat komoditas dunia, Yiwu di Tiongkok Timur misalnya melaporkan lonjakan ekspor barang-barang terkait Piala Dunia seperti bendera, jersei, syal, dan lainnya sebesar 12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pabrik-pabrik di Tiongkok memegang monopoli penuh dalam memproduksi dan mendistribusikan lebih dari 80% atas pasokan suvenir resmi yang kini sudah membanjiri pasar ke tiga negara tuan rumah yaitu Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada serta ke seluruh dunia.

Keempat, pergeseran hak siar ke platform gaya hidup digital. Keunggulan pasar domestik Tiongkok terbukti dari bagaimana cara masyarakatnya mengonsumsi sepak bola, yang mendorong inovasi platform digital global.

Misalnya, kita tau bahwa selain CMG/CCTV mengamankan hak siar televisi, ternyata aplikasi gaya hidup populer Tiongkok, Xiaohongshu yang sering disebut Instagram versi Tiongkok berhasil mengamankan hak streaming digital resmi untuk menyiarkan seluruh 104 pertandingan secara gratis kepada lebih dari 100 juta pengguna aktif pencinta bola di platform mereka.

FIFA melihat ini tentu saja sebagai ekosistem digital terbesar yang tidak dimiliki oleh negara barat mana pun. Kelima, dominasi "Blok Sponsor" terbesar di FIFA. Saat korporasi barat mulai selektif mengeluarkan anggaran karena inflasi, korporasi Tiongkok justru mengambil alih panggung utama untuk mengamankan posisi global mereka di tengah tensi geopolitik dagang.

Di jajaran Top-Tier Commercial Partners FIFA untuk siklus ini misalnya, ternyata ada nama-nama seperti Wanda Group, Lenovo, Hisense, dan Mengniu Dairy berdiri sejajar sebagai penyumbang dana terbesar yang memastikan target pendapatan sponsor tertinggi sepanjang sejarah FIFA dapat tercapai.

Fakta dan contoh tadi menunjukkan bahwa "pengaruh" Tiongkok bukan lagi sekadar lobi politik di hotel mewah, melainkan ketergantungan mutlak FIFA pada teknologi fisik, modal, dan pasokan manufaktur Tiongkok agar turnamen sebesar Piala Dunia 2026 ini bisa berjalan dengan lancar.

Dengan kata lain, walaupun tim nasional Tiongkok tidak bermain di lapangan Piala Dunia, pada faktanya uang, sponsor, teknologi, pasar, dan konsumennya tetap hadir di hampir setiap aspek turnamen. Inilah yang sebenarnya alasan paling kuat FIFA tidak bisa menolak tawaran Tiongkok. Mereka tidak datang sebagai pembeli biasa, tetapi sebagai pemilik salah satu pasar terbesar dunia.

Lalu bagaimana dengan negara-negara besar lain seperti India, Amerika Serikat, Indonesia, dan Italia? India misalnya, sebenarnya memiliki posisi yang cukup mirip dengan Tiongkok dari sisi jumlah penduduk. kasus terkait hak siar mereka pun mirip dengan Tiongkok, tetapi tidak identik.

Diketahui, keduanya berhasil menekan FIFA dalam negosiasi hak siar dengan alasan yang hampir sama terkait jam tayang, namun sumber kekuatan mereka berbeda. Di India, sepak bola masih kalah populer dibanding kriket dari sisi penggemar.

Karena itu, perusahaan media India tidak bersedia membayar harga tinggi yang diminta FIFA. Kebuntuan ini baru pecah setelah Zee Entertaiment atau 'Z' mengambil langkah strategis mengamankan hak siar jangka panjang hingga 2034.

Namun, karena ini melibatkan perusahaan publik maka rincian finalisasi nilai kontraknya hingga saat ini belum diumumkan secara gamblang ke publik, meski ada laporan menyebutkan dari $100 juta atau hampir Rp2 triliun menjadi $60 juta atau sekitar Rp1 triliun.

Perbedaan utama antara India dan Tiongkok dalam negosiasi hak siar ini terletak pada struktur pasar penyiaran negara masing-masing. Tiongkok lebih cepat deal dengan FIFA karena menggunakan sistem monopoli satu pintu atau sentralisasi, sedangkan India lambat karena menggunakan sistem kompetisi korporasi swasta yang melibatkan banyak raksasa media swasta yang saling bersaing.

Selain itu, Tiongkok juga punya kemampuan ekonomi, teknologi, dan pengaruh korporasi dalam industri sepak bola global yang jauh lebih besar. Sponsor Tiongkok juga sudah menjadi bagian dari mesin bisnis FIFA sehingga punya daya tawar dan pegaruh yang kuat di FIFA. Sedangkan India masih lebih berperan sebagai pasar penonton yang besar.

Sementara Amerika Serikat berada pada posisi yang berbeda. Total harga hak siar resmi yang didapatkan mereka oleh FIFA mencapai sekitar $950 juta hingga $1,085 miliar atau hampir Rp20 triliun, yang dibagi ke dalam dua jaringan penyiaran raksasa, yaitu Fox Sports dan Telemundo/NBCUniversal.

Kontrak untuk wilayah Amerika Serikat ini memiliki keunikan tersendiri karena sudah ditandatangani sejak tahun 2015. Pada saat itu, FIFA memperpanjang kontrak Fox dan Telemundo dari edisi 2022 langsung ke edisi 2026 tanpa melalui proses lelang terbuka.

Sebagai tuan rumah utama Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko, pengaruh mereka terhadap FIFA memang sangat besar. Namun kekuatan mereka lebih berasal dari statusnya sebagai penyelenggara, pasar media olahraga terbesar dunia, serta kemampuan menghasilkan pendapatan komersial yang sangat besar, sehingga tidak sampai mendominasi FIFA seperti Tiongkok.

Italia juga memiliki pengaruh besar karena sejarah sepak bolanya yang panjang. Negara ini adalah rumah bagi liga elite dan pernah menjadi juara dunia empat kali. Namun kekuatan Italia lebih bersifat historis dan olahraga. Dari sisi ukuran pasar dan jumlah penduduk, Italia tidak dapat menandingi Tiongkok.

Untuk hak siar Piala Dunia 2026, total biaya yang harus dibayar Italia kepada FIFA diperkirakan berada di kisaran €120 juta hingga €150 juta atau sekitar Rp3 triliun, yang dibagi ke dalam dua jaringan penyiaran raksasa, yaitu TV publik nasional Italia atau RAI dan Platform Streaming DAZN.

Sementara itu, Indonesia yang memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa dan basis suporter yang sangat fanatik. Pengaruh Indonesia terhadap FIFA terus meningkat seiring keberhasilan menjadi tuan rumah berbagai turnamen FIFA kelompok umur dan meningkatnya perhatian dunia terhadap sepak bola Indonesia yang terus berkembang.

Namun secara ekonomi, nilai pasar media dan sponsor Indonesia masih belum berada pada level yang memungkinkan melakukan negosiasi sekuat Tiongkok. Meski demikian, Nilai kontrak resmi hak siar Piala Dunia 2026 yang harus dibayarkan oleh Indonesia melalui Lembaga Penyiaran Publik TVRI kepada FIFA diperkirakan berada di angka Rp16 miliar hingga Rp32 miliar.

Semua perbandingan ini menunjukkan satu fakta penting bahwa ternyata pengaruh dalam sepak bola internasional tidak selalu berasal dari kualitas tim nasional. Dalam era modern, pengaruh juga datang dari kekuatan ekonomi, teknologi, pasar media, sponsor, dan jumlah konsumen.

Tiongkok nampaknya memahami hal tersebut dengan sangat baik. Karena itulah FIFA tetap menghormati Tiongkok meskipun tim nasionalnya belum mampu bersaing di level tertinggi. FIFA bahkan menyebut pasar Tiongkok sebagai pasar yang sangat penting dan menekankan kerja sama jangka panjang dengan CMG hingga Piala Dunia 2030 dan Piala Dunia Wanita 2031.

FIFA pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa kehilangan sebagian pendapatan hak siar jauh lebih baik dibanding kehilangan akses ke salah satu pasar terbesar dunia. Dalam konteks inilah Tiongkok menunjukkan bentuk kekuatan yang berbeda.

Mereka mungkin belum mampu mengangkat trofi Piala Dunia, tetapi mereka sudah memiliki kekuatan sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia sehingga dapat memengaruhi keputusan bisnis organisasi sepak bola terbesar di dunia tersebut melampaui Amerika Serikat sekalipun.

Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, Italia, India, dan Indonesia maka terlihat jelas bahwa Tiongkok memiliki kombinasi unik yang melampaui negara-negara tersebut berupa populasi raksasa, kekuatan ekonomi, teknologi digital, sponsor global, jaringan media nasional, dan daya tawar pasar yang mampu membuat FIFA tunduk dan memilih berkompromi dengan Tiongkok.